Senin, 14 Januari 2013

KENANGAN


Ini request dari seseorang. Sorry yah ceritanya baru dibuatin sekarang. mudah-mudahan pada suka. Sorry typo dan ceritanya nggak bagus aku baru coba-coba buat cerita soalnya. Masih amatiran hehehe J
Ini asli hasil karyaku lho J

03.30 P.M. 11 Januari 2012

Angin yang bertiup lumayan kencang membuat rambut yang sengaja aku urai menjadi lumayan berantakan tetapi itu tak membuatku bergegas meninggalkan tempat ini. Sedikit rasa menyesal terselip di hatiku , mengapa sebelum ke sini tak terpikir olehku untuk memakai baju yang cukup tebal? Tetapi tak apalah setidaknya aku masih bisa berada di atas tempat ini menatap kagum pada bangunan yang tidak pernah direnovasi ini, sepertinya.

Hmmm…. Tempat ini mempunyai banyak kenangan yang tak akan pernah aku lupakan. Disetiap sudutnya ada satu kisah nyata yang baru kusadari sekarang itu terasa aneh dan menunjukkan betapa bodohnya aku dulu.

Menangis, tertawa dan mempunyai banyak masalah di tempat ini yang hampir semua masalahnya aku selesaikan tanpa pikir panjang apa akibat yang akan aku dapatkan kelak. Tetapi itulah yang membuat kisah cintaku menjadi indah dan setidaknya memberikan pelajaran berharga tentang cinta padaku.

☼☼☼

06.45 A.M. 05 Agustus 2006

Bruk…

“Aw…” Aku meringis kesakitan saat seseorang menabrak bahuku dengan keras. Aku mendongakkan kepala, menatap orang yang tidak sengaja atau sengaja-mempunyai maksud yang lain- menabrakku. Orangnya cukup tinggi setidaknya melebihi tinggiku dan itulah alasan yang  membuat aku harus mendongakkan kepalaku.

“Ups… sorry. Satu sama,” ucapnya dan berlalu pergi tanpa menunggu apakah aku akan membalas ucapannya tadi.

Aku hanya mendesis kesal teringat kejadian satu hari yang lalu. Saat aku yang tengah membayar cappuccino yang kubeli, tanganku ditarik dari Vaya dan mengajakku melerai pertengkeran yang dibuat oleh Rika saat mereka sedang menungguku membeli cappuccino tadi, tentu setelah mendengar perkataan Vaya aku mengikuti dia berjalan dengan langkah cepat dan membiarkan tanganku memerah akibat pegangan Vaya terlalu kuat, tetapi hal yang seharusnya tidak perlu terjadi saat kami sedang heboh-hebohnya menuju tempat Rika berantem malah terjadi dan membuat waktu kami menjadi sedikit berkurang. Aku menabrak cowok yang sedang berjalan dari arah berlawan, naasnya cappuccino yang ku beli tadi malah tumpah ke baju putihnya, parahkan. Aku menyadari ini semua karena ketidak hati-hatianku, aku buru-buru meminta maaf dan mencoba menghilangkan noda yang dibuat oleh cappuccino ku dengan tangan tetapi bukannya cappuccino itu menghilang dari bajunya malah noda itu melebar, aduh waktu itu aku benar-benar merasa menyesal dan meminta maaf berkali-kali. Dan parahnya lagi yang kutabrak tadi adalah kakak kelasku kapten basket yang sebentar lagi mungkin akan berhenti menjadi kapten karena dia telah menginjak bangku kelas 12, Rubi Andika Diantara. Dia hanya memandangku dengan muka masam dan pergi tanpa memberikan maaf padaku aku menghentak-hentakkan kakiku kesal. Tetapi aku tak sempat untuk benar-benar memikirkan kekesalanku, karena Vaya kembali menarik tanganku-padahal aku mengalami kejadian tadi,  Vaya juga mengambil andil karena dia yang menarik tanganku dengan tak sabar dan sekarang dia menarik tanganku kembali-. Akhirnya, aku kembali pasrah mengikuti langkah Vaya dan sekarang aku sedikit lebih hati-hati mengikutinya.

Setelah mengingat kejadian kemarin dan tadi aku kembali merasa kesal, rasanya amarahku telah naik ke ubun-ubun menunggu waktunya meledak. Huh, untung dia kakak kelas kalau tidak, aku telah mendatanginya dengan teman-temanku dan melabraknya habis-habisan.

☼☼☼

03.40 P.M. 12 Januari 2012
Aku merasa geli sendiri saat aku mengingat pertama kali aku berbicara dengan Rubi yang dulunya sangat terkenal di SMA-ku ini. Padahal dulu waktu pertama kali aku masuk SMA, aku mengaguminya dan mengharapkan untuk berbicara dengannya. Dan kemudian kelas 11 aku malah membencinya, berharap tak melihat mukanya setiap hari di sekolah.

“Sa, ini minumannya. Sorry yah lama,” ucap seseorang yang mendekatiku dan kemudian merangkulku menggunakan tangan kirinya.

“Iya nggak apa-apa kok, Bi.” Aku menjawab ucapannya dengan tersenyum manis ke arahnya dan menatap matanya dengan lembut.

“Yuk, kita ke tempat biasa.” Dia menarikku menuju taman belakang sekolah yang terkenal dengan kesejukan dan kenyamanannya. Mudah-mudahan tamannya belum berubah, mungkin tidak sama persis seperti tahun sebelum-sebelumnya aku berada di SMA Cielo ini.

“Di sini udaranya masih sejuk yah, Bi. Sama kayak terakhir kita di sini.” Aku menyandarkan kepalaku di lengannya yang kokoh saat kami telah duduk di bangku taman yang biasa kami duduki saat istirahat berlangsung tentunya dengan sahabat-sahabat kami yang lain, bukan hanya kami berdua.

“Iya,” jawabnya singkat dan kami pun larut dalam kenang-kenangan yang kami buat di taman ini. Kenangan yang nggak mungkin aku lupakan, karena hampir semua kenangan di SMA, berpusat di taman ini.

☼☼☼

09.30 A.M. 01 Desember 2006

Aku menatap kosong ke arah bunga-bunga yang sedang bermekaran, membuat bermacam-macam kupu-kupu warna-warni bergantian hinggap di satu bunga yang satu dengan yang lain. Sungguh indah, bagaimana tidak, momen ini jarang terjadi di taman belakang sekolah. Sehingga banyak siswa siswi menunggu momen ini. Momen yang mereka anggap hanya terjadi satu kali setahun. Tetapi aku tak terlalu memandang pemandangan indah itu. Sekarang otakku terasa lebih ruwet dari sebelumnya seperti ada tali-tali kusut di dalam otak, hufft.

Aku bingung mengapa sekarang aku sering deg-degan saat melihat matanya bahkan saat berhadapan dengannya, aku sering lebih susah untuk mententramkan degup jantungku. Warna matanya yang coklat kehitam-hitaman sangat sulit dilupakan, membuatku selalu tidak fokus membaca novel maupun buku pelajaran anehkan? Apa aku sudah jatuh cinta padanya? Seperti yang diucapkan Vaya waktu aku sedang curhat dengan dia. Oh tidak, bagaimana mungkin? Selama 3 bulan ini dia tak pernah menunjukkan sikap romantis kepadaku, yang dia tunjukkan hanya sikap saling membenci yang sering kami kobar-kobarkan selama ini.

Tiba-tiba ada sebuah tangan menyentuh bahuku dengan sedikit kuat. Aku tersentak kaget dan menoleh dengan cepat ke arah datangnya tepukan. Aku menghela nafas saat melihat siapa yang menepukku tadi dan menentramkan jantungku yang mulai berdegup-degup tak jelas, berharap dia tak mendengar degupan jantungku itu.

“Ngapain lo di sini, mana sahabat-sahabat lo yang seperti pengawal itu,” ejeknya dan duduk di sebelahku.

Aku hanya mendengus kesal. Tega banget kan dia bilang sahabat-sahabatku sebagai pengawal, padahal dia tak tahu bagaimana berartinya sahabatku itu bagi diriku, hatiku berkata dengan mirisnya. Dia memandangku aneh, membuatku jadi sedikit salting. Dan kami pun hanya terdiam menatap ke arah pandangankju tadi. Mungkin dia heran, tumben-tumbenan aku nggak niat membalas hinaannya tadi yang lumayan nyelekit itu.

“Aku suka lo,” ucapku tanpa sadar dan menatap kosong arah depan. Butuh beberapa detik kemudian aku menyadari apa yang aku katakan dengannya tadi, dan aku sepertinya menyesal mengatakan itu. Aku kan belum sepenuhnya sadar kalau aku benar-benar mencintainya atau tidak. Tapi aku malah mengatakannya. Ya sudahlah, itu sudah terlanjur.

Saat aku melihat ke arahnya, dia malah memandang ke depan tanpa menunjukkan ekspresi apa pun. Bertambah banyaklah penyesalan aku mengatakan itu  padanya. Yah, sepertinya aku memang diharuskan pasrah kalau dia menolakku bahkan mungkin pergi meninggalkanku dan menganggap tak pernah mengenalku sama sekali bahkan tak mengingatku pernah menjadi musuhnya, miris bangetkan!  Aku merasa sekarang aku sedang berada pasa sebuah komik bergenre remaja yang menceritakan kisah remaja seorang anak SMA yang ditolak cintanya dan akulah yang memerankan tokoh cewek itu ditolak oleh pangeran terganteng di SMA itu, berambut ala harajuku, hidung yang mancung dan berkulit putih mulus, dan sangat tidak cocok dengan aku sebagai tokoh ceweknya yang berambut panjang, dikepang dua, berkacamata tebal dengan bingkai biasa, kulitku yang kusam karena tak pernah dirawat gara-gara penuh kesibukan belajar, les, dan bekerja paruh waktu. Oh aku membayangkan diriku benar-benar terlihat miris di kisah itu.

Tak sadar karena asik membayangkan betapa mirisnya aku di dalam komik itu, dia telah memandangku mungkin dalam waktu yang cukup lama. Aku yang mulai tersadar pun langsung melihat ke arahnya dengan tampang pasrah banget -_-.

“Oke kita pacaran mulai sekarang,” ucapnya cuek dan berlalu meninggalkanku yang terbengong-bengong atas jawabannya tadi. Hufft… aku memang salah mencintai orang sepertinya.

☼☼☼

02.00 P.M. 30 Desember 2006

Haha…. Sepertinya aku salah tanggap dengan omongan dia dua puluh sembilan hari yang lalu. Kalau dia serius mengajakku untuk berpacaran. Oke…. Memang sikap dia tak seperti dulu lagi sebelum aku mengucapkan kata suka kepadanya. Dia mulai berhenti menghinaku dan mulai bersikap sedikit lembut padaku.

Tetapi yang aku lihat di depan mataku sekarang, meruntuhkan semuanya. Dia sedang tertawa dengan riangnya di depan Vaya padahal di depanku dia tak pernah menunjukkan itu semua. Di depanku dia hanya memberikan senyum miring saat aku menceritakan kejadian lucu. Haha…. Dan aku baru sadar tak ada yang pernah mengungkit kejadian hari itu, malah tak ada seorang teman pun yang tahu. Mungkin saat itu dia hanya bercanda atau aku tak tahulah alasan apa yang ada dibenaknya saat itu.

Vaya adalah salah satu sahabatku yang paling dekat denganku dan dialah yang memberi tahuku kalau aku mencintai Rubi. Tapi sebenarnya salahku juga saat curhat dengannya aku tak pernah menyebutkan siapa cowok yang membuatku seperti itu. Tapi yah mungkin ini salahku juga kali yah tak pernah meminta penjelasan tentang semua ini dengan Rubi dan akhirnya malah aku sendiri yang salah paham dan merasakan sakitnya.

Mereka berjalan berdua menuju ke mobil yang dibawa Rubi dan menaiki mobil itu pergi tanpa aku tahu kemana, mungkin ke rumah Vaya? Satu lagi yang membuat Vaya unggul dariku, aku tak pernah menaiki mobil itu. Aku meninggalkan taman dimana tempat aku melihat semua kejadian yang membuat hatiku sakit ini.

☼☼☼

05.00 P.M. 31 Desember 2006

Beberapa jam yang akan datang tahun 2006 akan berganti. Mungkin aku tak akan pernah merayakan datangnya tahun baru seperti tahun-tahun sebelumnya. Mereka semua sepertinya mempunyai acara masing-masing tanpa pernah mengajakku.

Jam terus berganti dan aku masih terpaku di balkon kamar menatap ke langit yang bermula berwarna kebiru-biruan berganti warna kekuning-kuningan dengan semburat warna kemerahan yang kemudian berganti dengan warna kehitam-hitaman.

Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Membuatku dengan malas menuruni tangga dan membuka pintu depan.

“Surprise,” teriak Rika dengan keras.

Aku menutup kedua telingaku, “Ada apa sih, Ka, teriak malam-malam gini,” ucapku jengkel.

“Ayo cepetan, Sa, lo harus ganti baju. Cepet yah lima menit waktu untuk lo ganti baju.” Rika mendorongku menuju kamar. Aku menurutinya dan mengganti bajuku dengan cepat. Kemudian menghampirinya yang sedang membaca majalah di ruang tamu.

“Kita pergi sekarang.”

“Mau kemana sih? Bentar pamit dulu ke bonyok.”

“Iya… iya… gue tunggu di mobil.”

Aku pun pamit kepada kedua orang tuaku dan menyusul Rika yang sudah duluan di mobilnya.

Aku memandang takjub ke arah pantai buatan. Tempat yang dituju Rika tadi. Tempat yang indah dan di sana ternyata sudah ada Vaya yang melambai-lambai ke arah kami dengan beberapa orang cowok. Rika berlari-lari menghampiri Vaya yang sedang memanggang sesuatu entah apa dan aku hanya berjalan dengan lambat karena aku mengingat apa yang terjadi kemarin. Rika berbalik badan dan kembali menghampiri aku yang berjarak sedikit jauh darinya, dia berlari menghampiriku seperti melupakan sesuatu.

“Oh yah, ada yang nungguin lo di menara itu. Silahkan ke sana yah.” Dan dia kembali berlari-lari ke arah Vaya. Aku yang sedikit penasaran berjalan ke arah menara itu. Kira-kira siapa yah yang menungguku di sana itu adalah salah satu contoh pertanyaan yang berkecamuk di hatiku.

Setelah menaiki satu demi satu tangga aku mulai melihat seseorang dengan rambut hitam yang bersinar diterpa oleh sinar bulan malam itu. Aku sedikit terpesona sebelum menyadari bahwa cowok itu adalah Rubi.

“Hi.” Dia menyapaku yang mendekatinya. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk aku meluruskan semuanya. Sehingga aku mungkin tak akan salah paham lagi.

“Hi, ada apa lo manggil gue ke sini.”

“Nggak, gue cuma mau bilang sesuatu.”

“Gue juga mau bilang sesuatu sama lo.”

“Oke silahkan  lo mau bilang apa. Setelah lo selesai baru nanti gue yang bakalan bicara.”

“Gue mau minta kejelasan aja sama lo. Apa maksud lo yang bicara tentang pacaran?” aku bertanya langsung ke masalah pokoknya aku malas untuk bertele-tele sekarang.

“Oh itu, gue akan jawabnya nanti aja,” ucapnya misterius.

“Oh yah, selamat lo udah jadian sama Vaya,” ucapku tulus dan menyalami paksa tangannya.

Dia menatapku dengan pandangan aneh. “Gue nggak pernah jadian sama Vaya.”

“Terus kemarin bukannya kalian pulang bareng dan sepertinya kalian cukup mesra.”

“Oh itu, kita ada memang ada rencana rahasia lagian kemarin bukan cuma Vaya kok yang pulang bareng sama gue mereka juga ikut.” Dia menunjuk ke arah kerumunan Vaya, Rika dan orang yang tak ku kenal. Aku mengernyitkan dahi bingung.

“Gue yang ngerencanain semua ini dengan bantuan mereka. Gue sebenarnya udah lama ingin bicara sama lo berdua aja setelah kejadian di taman itu. Dan sekaranglah waktunya, gue sengaja buat acara ini agar gue bisa bicara dengan lo.

“Gue sebenarnya udah suka sama lo sebelum lo ucapin suka waktu itu di taman. Gue syok waktu lo bilang itu dan gue nggak tahu mau bilang apa. Dan waktu gue liat lo dengan pandangan nggak fokus gue merasa kalau lo nggak sadar udah ngucapin itu semua. Pada akhirnya gue juga sedikit aneh karena denggan entengnya gue bilang kita pacaran.

“Setelah kejadian itu gue sebenarnya merasa senang. Dan besoknya gue berharap kamu bicarain kejadian itu tetapi sikap lo biasa aja dan buat gue mulai sangsi jangan-jangan lo nggak sadar waktu ngucapin itu.

“Dan sekarang gue mau lo dengar. Gue suka sama lo, gue cinta sama lo. Mau nggak lo jadi cinta pertama dan terakhir gue. Gue tau gue orangnya nggak so sweet tapi gue harap lo nggak liat dari itu semua. Mau kan lo jadi pacar gue?” tanyanya dengan menatap mataku dengan lembut. Setelah dia menjelaskan panjang lebar tentang semuanya dan itu sukses membuatku terbengong-bengong. Dalam durasi yang cukup lama akhirnya aku mengangguk bertepatan dengan suara kembang api yang bersahut-sahutan di atas sana. Vaya dan yang lainnya meneriaki happy new year.

“Bener, makasih sayang, Princesa Querida love you and happy new year,” bisiknya lembut.

☼☼☼

04.10 P.M. 12 Januari 2012

“Sa, udah selesai. Anak-anak bentar lagi selesai les lho.”

Aku memandang seseorang yang telah menjadi cinta pertama dan terakhirku itu. Dan menganggukkan kepala. Dia merangkulku erat berjalan menuju tempat mobil kami diparkir. Aku senang hari ini telah menghabiskan waktuku untuk mengenang semuanya yang menjadi awal kisah cintaku.

☼☼☼
THE END
©Zizi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar