Ini request dari
seseorang. Sorry yah ceritanya baru dibuatin sekarang. mudah-mudahan pada suka.
Sorry typo dan ceritanya nggak bagus aku baru coba-coba buat cerita soalnya.
Masih amatiran hehehe J
Ini asli hasil
karyaku lho J
03.30 P.M. 11 Januari 2012
Angin yang bertiup lumayan kencang membuat rambut yang
sengaja aku urai menjadi lumayan berantakan tetapi itu tak membuatku bergegas
meninggalkan tempat ini. Sedikit rasa menyesal terselip di hatiku , mengapa
sebelum ke sini tak terpikir olehku untuk memakai baju yang cukup tebal? Tetapi
tak apalah setidaknya aku masih bisa berada di atas tempat ini menatap kagum
pada bangunan yang tidak pernah direnovasi ini, sepertinya.
Hmmm…. Tempat ini mempunyai banyak kenangan yang tak akan
pernah aku lupakan. Disetiap sudutnya ada satu kisah nyata yang baru kusadari
sekarang itu terasa aneh dan menunjukkan betapa bodohnya aku dulu.
Menangis, tertawa dan mempunyai banyak masalah di tempat ini
yang hampir semua masalahnya aku selesaikan tanpa pikir panjang apa akibat yang
akan aku dapatkan kelak. Tetapi itulah yang membuat kisah cintaku menjadi indah
dan setidaknya memberikan pelajaran berharga tentang cinta padaku.
☼☼☼
06.45 A.M. 05 Agustus
2006
Bruk…
“Aw…” Aku meringis kesakitan saat seseorang menabrak bahuku
dengan keras. Aku mendongakkan kepala, menatap orang yang tidak sengaja atau
sengaja-mempunyai maksud yang lain- menabrakku. Orangnya cukup tinggi setidaknya
melebihi tinggiku dan itulah alasan yang
membuat aku harus mendongakkan kepalaku.
“Ups… sorry. Satu sama,” ucapnya dan berlalu pergi tanpa
menunggu apakah aku akan membalas ucapannya tadi.
Aku hanya mendesis kesal teringat kejadian satu hari yang
lalu. Saat aku yang tengah membayar cappuccino yang kubeli, tanganku ditarik
dari Vaya dan mengajakku melerai pertengkeran yang dibuat oleh Rika saat mereka
sedang menungguku membeli cappuccino tadi, tentu setelah mendengar perkataan
Vaya aku mengikuti dia berjalan dengan langkah cepat dan membiarkan tanganku
memerah akibat pegangan Vaya terlalu kuat, tetapi hal yang seharusnya tidak
perlu terjadi saat kami sedang heboh-hebohnya menuju tempat Rika berantem malah
terjadi dan membuat waktu kami menjadi sedikit berkurang. Aku menabrak cowok
yang sedang berjalan dari arah berlawan, naasnya cappuccino yang ku beli tadi
malah tumpah ke baju putihnya, parahkan. Aku menyadari ini semua karena ketidak
hati-hatianku, aku buru-buru meminta maaf dan mencoba menghilangkan noda yang
dibuat oleh cappuccino ku dengan tangan tetapi bukannya cappuccino itu menghilang
dari bajunya malah noda itu melebar, aduh waktu itu aku benar-benar merasa
menyesal dan meminta maaf berkali-kali. Dan parahnya lagi yang kutabrak tadi
adalah kakak kelasku kapten basket yang sebentar lagi mungkin akan berhenti
menjadi kapten karena dia telah menginjak bangku kelas 12, Rubi Andika Diantara.
Dia hanya memandangku dengan muka masam dan pergi tanpa memberikan maaf padaku
aku menghentak-hentakkan kakiku kesal. Tetapi aku tak sempat untuk benar-benar
memikirkan kekesalanku, karena Vaya kembali menarik tanganku-padahal aku
mengalami kejadian tadi, Vaya juga
mengambil andil karena dia yang menarik tanganku dengan tak sabar dan sekarang
dia menarik tanganku kembali-. Akhirnya, aku kembali pasrah mengikuti langkah
Vaya dan sekarang aku sedikit lebih hati-hati mengikutinya.
Setelah mengingat kejadian kemarin dan tadi aku kembali
merasa kesal, rasanya amarahku telah naik ke ubun-ubun menunggu waktunya
meledak. Huh, untung dia kakak kelas kalau tidak, aku telah mendatanginya
dengan teman-temanku dan melabraknya habis-habisan.
☼☼☼
03.40 P.M. 12 Januari 2012
Aku merasa geli sendiri saat aku mengingat pertama kali aku
berbicara dengan Rubi yang dulunya sangat terkenal di SMA-ku ini. Padahal dulu
waktu pertama kali aku masuk SMA, aku mengaguminya dan mengharapkan untuk
berbicara dengannya. Dan kemudian kelas 11 aku malah membencinya, berharap tak
melihat mukanya setiap hari di sekolah.
“Sa, ini minumannya. Sorry yah lama,” ucap seseorang yang
mendekatiku dan kemudian merangkulku menggunakan tangan kirinya.
“Iya nggak apa-apa kok, Bi.” Aku menjawab ucapannya dengan
tersenyum manis ke arahnya dan menatap matanya dengan lembut.
“Yuk, kita ke tempat biasa.” Dia menarikku menuju taman
belakang sekolah yang terkenal dengan kesejukan dan kenyamanannya.
Mudah-mudahan tamannya belum berubah, mungkin tidak sama persis seperti tahun
sebelum-sebelumnya aku berada di SMA Cielo ini.
“Di sini udaranya masih sejuk yah, Bi. Sama kayak terakhir
kita di sini.” Aku menyandarkan kepalaku di lengannya yang kokoh saat kami
telah duduk di bangku taman yang biasa kami duduki saat istirahat berlangsung
tentunya dengan sahabat-sahabat kami yang lain, bukan hanya kami berdua.
“Iya,” jawabnya singkat dan kami pun larut dalam
kenang-kenangan yang kami buat di taman ini. Kenangan yang nggak mungkin aku
lupakan, karena hampir semua kenangan di SMA, berpusat di taman ini.
☼☼☼
09.30 A.M. 01
Desember 2006
Aku menatap kosong ke arah bunga-bunga yang sedang
bermekaran, membuat bermacam-macam kupu-kupu warna-warni bergantian hinggap di
satu bunga yang satu dengan yang lain. Sungguh indah, bagaimana tidak, momen
ini jarang terjadi di taman belakang sekolah. Sehingga banyak siswa siswi
menunggu momen ini. Momen yang mereka anggap hanya terjadi satu kali setahun.
Tetapi aku tak terlalu memandang pemandangan indah itu. Sekarang otakku terasa
lebih ruwet dari sebelumnya seperti ada tali-tali kusut di dalam otak, hufft.
Aku bingung mengapa sekarang aku sering deg-degan saat
melihat matanya bahkan saat berhadapan dengannya, aku sering lebih susah untuk
mententramkan degup jantungku. Warna matanya yang coklat kehitam-hitaman sangat sulit
dilupakan, membuatku selalu tidak fokus membaca novel maupun buku pelajaran anehkan?
Apa aku sudah jatuh cinta padanya? Seperti yang diucapkan Vaya waktu aku sedang
curhat dengan dia. Oh tidak, bagaimana mungkin? Selama 3 bulan ini dia tak
pernah menunjukkan sikap romantis kepadaku, yang dia tunjukkan hanya sikap
saling membenci yang sering kami
kobar-kobarkan selama ini.
Tiba-tiba ada
sebuah tangan menyentuh bahuku dengan sedikit kuat. Aku tersentak kaget dan
menoleh dengan cepat ke arah datangnya tepukan. Aku menghela nafas saat melihat
siapa yang menepukku tadi dan menentramkan jantungku yang mulai berdegup-degup
tak jelas, berharap dia tak mendengar degupan jantungku itu.
“Ngapain lo di
sini, mana sahabat-sahabat lo yang seperti pengawal itu,” ejeknya dan duduk di
sebelahku.
Aku hanya
mendengus kesal. Tega banget kan dia bilang sahabat-sahabatku sebagai pengawal,
padahal dia tak tahu bagaimana berartinya sahabatku itu bagi diriku, hatiku
berkata dengan mirisnya. Dia memandangku aneh, membuatku jadi sedikit salting.
Dan kami pun hanya terdiam menatap ke arah pandangankju tadi. Mungkin dia
heran, tumben-tumbenan aku nggak niat membalas hinaannya tadi yang lumayan
nyelekit itu.
“Aku suka lo,”
ucapku tanpa sadar dan menatap kosong arah depan. Butuh beberapa detik kemudian
aku menyadari apa yang aku katakan dengannya tadi, dan aku sepertinya menyesal
mengatakan itu. Aku kan belum sepenuhnya sadar kalau aku benar-benar
mencintainya atau tidak. Tapi aku malah mengatakannya. Ya sudahlah, itu sudah
terlanjur.
Saat aku melihat
ke arahnya, dia malah memandang ke depan tanpa menunjukkan ekspresi apa pun.
Bertambah banyaklah penyesalan aku mengatakan itu padanya. Yah, sepertinya aku memang diharuskan
pasrah kalau dia menolakku bahkan mungkin pergi meninggalkanku dan menganggap
tak pernah mengenalku sama sekali bahkan tak mengingatku pernah menjadi
musuhnya, miris bangetkan! Aku merasa
sekarang aku sedang berada pasa sebuah komik bergenre remaja yang menceritakan
kisah remaja seorang anak SMA yang ditolak cintanya dan akulah yang memerankan
tokoh cewek itu ditolak oleh pangeran terganteng di SMA itu, berambut ala
harajuku, hidung yang mancung dan berkulit putih mulus, dan sangat tidak cocok
dengan aku sebagai tokoh ceweknya yang berambut panjang, dikepang dua,
berkacamata tebal dengan bingkai biasa, kulitku yang kusam karena tak pernah
dirawat gara-gara penuh kesibukan belajar, les, dan bekerja paruh waktu. Oh aku
membayangkan diriku benar-benar terlihat miris di kisah itu.
Tak sadar karena
asik membayangkan betapa mirisnya aku di dalam komik itu, dia telah memandangku
mungkin dalam waktu yang cukup lama. Aku yang mulai tersadar pun langsung
melihat ke arahnya dengan tampang pasrah banget -_-.
“Oke kita pacaran
mulai sekarang,” ucapnya cuek dan berlalu meninggalkanku yang terbengong-bengong
atas jawabannya tadi. Hufft… aku memang salah mencintai orang sepertinya.
☼☼☼
02.00 P.M. 30 Desember 2006
Haha…. Sepertinya
aku salah tanggap dengan omongan dia dua puluh sembilan hari yang lalu. Kalau
dia serius mengajakku untuk berpacaran. Oke…. Memang sikap dia tak seperti dulu
lagi sebelum aku mengucapkan kata suka kepadanya. Dia mulai berhenti menghinaku
dan mulai bersikap sedikit lembut padaku.
Tetapi yang aku
lihat di depan mataku sekarang, meruntuhkan semuanya. Dia sedang tertawa dengan
riangnya di depan Vaya padahal di depanku dia tak pernah menunjukkan itu semua.
Di depanku dia hanya memberikan senyum miring saat aku menceritakan kejadian
lucu. Haha…. Dan aku baru sadar tak ada yang pernah mengungkit kejadian hari
itu, malah tak ada seorang teman pun yang tahu. Mungkin saat itu dia hanya
bercanda atau aku tak tahulah alasan apa yang ada dibenaknya saat itu.
Vaya adalah salah
satu sahabatku yang paling dekat denganku dan dialah yang memberi tahuku kalau
aku mencintai Rubi. Tapi sebenarnya salahku juga saat curhat dengannya aku tak
pernah menyebutkan siapa cowok yang membuatku seperti itu. Tapi yah mungkin ini
salahku juga kali yah tak pernah meminta penjelasan tentang semua ini dengan
Rubi dan akhirnya malah aku sendiri yang salah paham dan merasakan sakitnya.
Mereka berjalan
berdua menuju ke mobil yang dibawa Rubi dan menaiki mobil itu pergi tanpa aku
tahu kemana, mungkin ke rumah Vaya? Satu lagi yang membuat Vaya unggul dariku,
aku tak pernah menaiki mobil itu. Aku meninggalkan taman dimana tempat aku
melihat semua kejadian yang membuat hatiku sakit ini.
☼☼☼
05.00 P.M. 31
Desember 2006
Beberapa jam yang
akan datang tahun 2006 akan berganti. Mungkin aku tak akan pernah merayakan
datangnya tahun baru seperti tahun-tahun sebelumnya. Mereka semua sepertinya
mempunyai acara masing-masing tanpa pernah mengajakku.
Jam terus
berganti dan aku masih terpaku di balkon kamar menatap ke langit yang bermula
berwarna kebiru-biruan berganti warna kekuning-kuningan dengan semburat warna
kemerahan yang kemudian berganti dengan warna kehitam-hitaman.
Tiba-tiba bel
rumah berbunyi. Membuatku dengan malas menuruni tangga dan membuka pintu depan.
“Surprise,”
teriak Rika dengan keras.
Aku menutup kedua
telingaku, “Ada apa sih, Ka, teriak malam-malam gini,” ucapku jengkel.
“Ayo cepetan, Sa,
lo harus ganti baju. Cepet yah lima menit waktu untuk lo ganti baju.” Rika mendorongku
menuju kamar. Aku menurutinya dan mengganti bajuku dengan cepat. Kemudian
menghampirinya yang sedang membaca majalah di ruang tamu.
“Kita pergi
sekarang.”
“Mau kemana sih?
Bentar pamit dulu ke bonyok.”
“Iya… iya… gue
tunggu di mobil.”
Aku pun pamit
kepada kedua orang tuaku dan menyusul Rika yang sudah duluan di mobilnya.
Aku memandang
takjub ke arah pantai buatan. Tempat yang dituju Rika tadi. Tempat yang indah
dan di sana ternyata sudah ada Vaya yang melambai-lambai ke arah kami dengan
beberapa orang cowok. Rika berlari-lari menghampiri Vaya yang sedang memanggang
sesuatu entah apa dan aku hanya berjalan dengan lambat karena aku mengingat apa
yang terjadi kemarin. Rika berbalik badan dan kembali menghampiri aku yang
berjarak sedikit jauh darinya, dia berlari menghampiriku seperti melupakan
sesuatu.
“Oh yah, ada yang
nungguin lo di menara itu. Silahkan ke sana yah.” Dan dia kembali berlari-lari
ke arah Vaya. Aku yang sedikit penasaran berjalan ke arah menara itu. Kira-kira
siapa yah yang menungguku di sana itu adalah salah satu contoh pertanyaan yang
berkecamuk di hatiku.
Setelah menaiki
satu demi satu tangga aku mulai melihat seseorang dengan rambut hitam yang
bersinar diterpa oleh sinar bulan malam itu. Aku sedikit terpesona sebelum
menyadari bahwa cowok itu adalah Rubi.
“Hi.” Dia
menyapaku yang mendekatinya. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk aku
meluruskan semuanya. Sehingga aku mungkin tak akan salah paham lagi.
“Hi, ada apa lo
manggil gue ke sini.”
“Nggak, gue cuma
mau bilang sesuatu.”
“Gue juga mau
bilang sesuatu sama lo.”
“Oke
silahkan lo mau bilang apa. Setelah lo
selesai baru nanti gue yang bakalan bicara.”
“Gue mau minta
kejelasan aja sama lo. Apa maksud lo yang bicara tentang pacaran?” aku bertanya
langsung ke masalah pokoknya aku malas untuk bertele-tele sekarang.
“Oh itu, gue akan
jawabnya nanti aja,” ucapnya misterius.
“Oh yah, selamat
lo udah jadian sama Vaya,” ucapku tulus dan menyalami paksa tangannya.
Dia menatapku
dengan pandangan aneh. “Gue nggak pernah jadian sama Vaya.”
“Terus kemarin
bukannya kalian pulang bareng dan sepertinya kalian cukup mesra.”
“Oh itu, kita ada
memang ada rencana rahasia lagian kemarin bukan cuma Vaya kok yang pulang
bareng sama gue mereka juga ikut.” Dia menunjuk ke arah kerumunan Vaya, Rika
dan orang yang tak ku kenal. Aku mengernyitkan dahi bingung.
“Gue yang
ngerencanain semua ini dengan bantuan mereka. Gue sebenarnya udah lama ingin
bicara sama lo berdua aja setelah kejadian di taman itu. Dan sekaranglah
waktunya, gue sengaja buat acara ini agar gue bisa bicara dengan lo.
“Gue sebenarnya
udah suka sama lo sebelum lo ucapin suka waktu itu di taman. Gue syok waktu lo
bilang itu dan gue nggak tahu mau bilang apa. Dan waktu gue liat lo dengan
pandangan nggak fokus gue merasa kalau lo nggak sadar udah ngucapin itu semua.
Pada akhirnya gue juga sedikit aneh karena denggan entengnya gue bilang kita
pacaran.
“Setelah kejadian
itu gue sebenarnya merasa senang. Dan besoknya gue berharap kamu bicarain
kejadian itu tetapi sikap lo biasa aja dan buat gue mulai sangsi jangan-jangan lo
nggak sadar waktu ngucapin itu.
“Dan sekarang gue
mau lo dengar. Gue suka sama lo, gue cinta sama lo. Mau nggak lo jadi cinta
pertama dan terakhir gue. Gue tau gue orangnya nggak so sweet tapi gue harap lo
nggak liat dari itu semua. Mau kan lo jadi pacar gue?” tanyanya dengan menatap
mataku dengan lembut. Setelah dia menjelaskan panjang lebar tentang semuanya
dan itu sukses membuatku terbengong-bengong. Dalam durasi yang cukup lama
akhirnya aku mengangguk bertepatan dengan suara kembang api yang
bersahut-sahutan di atas sana. Vaya dan yang lainnya meneriaki happy new year.
“Bener, makasih
sayang, Princesa Querida love you and happy new year,” bisiknya lembut.
☼☼☼
04.10 P.M.
12 Januari 2012
“Sa, udah selesai.
Anak-anak bentar lagi selesai les lho.”
Aku memandang
seseorang yang telah menjadi cinta pertama dan terakhirku itu. Dan
menganggukkan kepala. Dia merangkulku erat berjalan menuju tempat mobil kami
diparkir. Aku senang hari ini telah menghabiskan waktuku untuk mengenang
semuanya yang menjadi awal kisah cintaku.
☼☼☼
THE END
©Zizi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar