Telah berjam-jam Aruna duduk
di depan laptopnya. Tak ada satupun kata yang diketiknya untuk tugas bahasa
indonesianya membuat cerpen. Terlalu banyak yang hadir dalam kehidupannya. Yang
dia lakukan hanya lah berinteraksi didunia maya. Mencari inspirasi dalam setiap
tulisan orang. Tapi tak ada secuilpun kejadian yang seperti kisah hidupnya.
Alunan lagu hingga akhir
waktu dari nineball lah yang akhirnya bisa membuat tangannya dengan lancar
menceritakan kisah hidupnya. Aruna tanpa berpikir lagi, bahwa yang ditulisnya
akan menjadi konsumsi teman-temannya. Dia tanpa privasi lagi, karena dengan tulisannya
kisah hidupnya terungkap.
---
Hingga Akhir Waktu
Karya : Aruna Dinata
Ini kali keduanya aku
bersama dengannya. Dia Rian Aprianto. Kegelapan malam membuat semuanya
samar-samar terlihat, bus terus melaju membawa teman-temanku yang hampir
semuanya berteman dengan dunia mimpi karena didera kelelahan akut setelah satu
hari penuh mengikuti karya wisata yang diselenggarakan OSIS di SMA ku.
Namun dia, masih kokohnya
berdiri disamping tempat duduk Anty. Kala Anty terlelap badannya lah yang
menompang Anty hingga tak terjatuh. Berapa kali aku menoleh pada posisinya. Dia
masih sama, tak terasa air mataku hampir meleleh. Seandainya aku yang disana?
Kecemburuan seakan menyakiti rongga dadaku. Aku iri dengan Anty, tak tahu kah
Rian jikalau aku masih sangat menyayangi walaupun masa SMP ku telah berlalu.
Yup..aku satu SMP dengan
Rian, telah 6 tahun aku bersamanya. Bayangan itu kembali masuk didalam sukma
ku. satu detikpun aku tak perna lupa kenangan bersamanya. Bagiku semua
sangat berarti. Empat kali jika aku
total aku bersamanya dalam karya wisata, dua kali dimasa SMP ku dan dua kali
dimasa SMA ku. tak sedetikpun dia pernah melakukan hal seperti yang dia lakukan
dengan Anty.
Kala itu, hujan turun lebat.
Aku mengeratkan jaketku. Kilas balik Rian berputar putar dalam ingatanku, tak
tersusun rapi. Rian pernah bersamaku, rian pernah suka denganku. Walaupun aku
sadar sukanya anak satu SMP hanya lah cinta monyet. Tak bisa dipercaya. Itu lah
yang aku tahu, yang aku dengar dari setiap orang yang ada disekitarku. Tapi itu
lah yang menguatkan ku, bagian yang menghiburku. Aku sangat suka bersamanya,
saat itu dia mengajarkanku untuk tertawa dan lebih rapi mengemas emosiku.
Itulah Rian ku...Rian kecil yang culun, yang tak pernah mau memperlihatkan
kesusahan hidupnya. Rian Aprianto lah yang mampu merapuhkan Aruna illayah yang
sekeras batu karang.
Kini, waktu kian berlalu.
Rian kecilku tumbuh menjadi sosok yang dikagumi. Mungkin aku lah yang harus
dibangunkan dari tidur panjangku bahwa sungguh aku tak akan pernah pantas
mendapatkannya. Tak secuilpun dari diriku yang dapat kusandingkan dengannya. Mungkin
saat ini Anty lah yang tepat bersamanya. Mereka kelihatan serasi.
Ku toreh kan wajahku
menghadap jendela. Menikmati pemandangan indah lampu-lampu rumah penduduk
dikala malam. Ku hirup wanginya air hujan yang menyapu jalanan. Menenangkan ku.
tak lama aku balikkan wajahku menghadap aquariysta – sahabatku.
“ Riys..aku menyadari satu
hal. Aku tak mungkin tak mengikhlaskan hubungan Rian dengan Anty. Karena
jikalau aku begitu, berat bagi Rian untuk mendapatkan Anty. Aku tahu, aku akan
sakit jika mereka bersama. Tapi jujur aku lebih sakit jikalau aku melihat Rian
seperti ini. Melakukan apapun untuk Anty.. tapi Anty sekan menutup mata dan
telinga atas pa yang telah dilakukan Rian untuknya. Dia masih tetap tak mau
menerima Rian, tanpa sebuah alasan yang jelas. Mungki keikhlasanku pun berpengaruh.”
“ berjuanglah Aruna…semakin
kau genggam kuatnya dia layaknya kamu menggenggam pasir di pantai. Dia akan
semakin lepas dari tanganmu. Biarkan dia bahagia dengan pilihannya Aruna.
Kadang keikhlasan kita itulah cerminan kedewasaan kita. Dan apabila dia
ditakdirkan bersamamu, dia akan kembali denganmu.”
“ thanks riys..ya udah..ya
udah ntar Riys cariin Aruna cowok ya biar lupa sama Rian.”
“ Siip..”
-_-
Tak terasa telah seminggu
berlalu, dan pikiranku berdiam diri. Kosong dan hampa. Tak ku izinkan
sedetikpun bayangan Rian masuk kedalam pikiranku. Bukan berarti aku melupakan
nya. Karena aku yakin seberapa kuat aku melupakannnya, semakin sayang aku
dengannya.
Aquariysyta pun semakin sering mengalihkan perhatianku apabila
berpapasan dengan Rian yang mendekati Anty. Sekarang, sampai larut malam kadang
aku membuka akun facebook ku. sejak itu aku menyadari bahwa aku lebih sering
mencurahkan kegundahanku melalui facebook.
-_-
Hari ini adalah hari
ulangtahunku. Dan aku berdiri disini, tepat 3 bulan setelah aku putuskan untuk
ikhlas tentang itu. Dan sekarang keikhlasan itu jauh lebih dibutuhkan. Rian
benar telah pergi dalam hidupku. Mungkin itu wujud keadilan yang aku pernah
minta dihadirkan seperti ini oleh Tuhan. Bukan membiarkan diriku dengan seorang
bayangan lain. Membiarkan Rian dengan Anty. Tetapi membiarkan pergi untuk
selamanya. Adil dengan keduanya meneteskan air mata, aku dan Anty.
Air mataku menetes.
Mengingat Anty, rasanya aku ingin meluapkan emosiku. Ingin menyalahkan semuanya
dengannya. Anty tak pernah sedikitpun merespon Rian, aku benci itu. Aku terlalu
sakit untuk menghilangkan Rian dalam bayang hidupku dan Rian tanpa sadar sakit
karena Anty. Ya Tuhan,,,
Tapi aku sadar, semuanya
memiliki skenario. Takdir yang digariskan Tuhan. Rian pergi karena mau membelikan sebuah buku
untuk Anty – titipan Anty. Rian telah memilih Anty, aku tak boleh menyalahkan
itu, bersamaku pun aku tak bisa menjamin kebahagiannya.
Di bawah pohon kamboja yang
masih menyembulkan bunganya ini lah aku mengamati mereka dari kejauhan. Ku
lihat Anty menangis, tapi jauh meletihkan mata ketika melihat kedua orang
tuanya. Tak ada air mata, mereka hanya diam seolah tak percaya. Aku terlalu
sakit untuk kesana. Cukup masa laluku yang mengentahui rasaku terhadapnya. Air
mata ku pun menetes hanya sedetik karena telah aku pastikan tak ada air mata
untuknya. Dia ada disini. Di hatiku... hingga akhir waktu.
***
Amor es esperanza ( Cinta
adalah harapan ). Ucapan itu kembali tergiang di telinga Aruna. Rian telah lama
pergi tapi semua tentangnya tak akan pernah mati dalam diri Aruna. Walaupun
telah berupaya dikubur.
Aruna beranjak dari
tempatnya duduk. Matanya berkunang. Akhirnya dia putuskan untuk tidur.
---
“ Rian kenapa kau disini.
Bukankah dunia kita telah berbeda sekarang? “ Aruna menatap Rian tidak percaya.
“ aku tahu dunia kita telah
berbeda. Aku hanya ingin menemui seorang Aruna. “ Rian hanya berdiri diam
menatap Aruna.
“ Kau harus tahu. Butuh
waktu lama mengubur semua tentangmu, Rian. Kenapa kau meninggalkanku Rian
Aprianto? “
“ Maafkan aku, Aruna.
Sungguh aku telah banyak menyakitimu
bahkan hingga akhir waktupun aku tak bisa menyadari bahwa kau jauh
menyayangiku. “
“Aku telah mengikhlaskan
semua tentangmu Rian. Kau salah menilaiku, aku bangga pernah mengukir harapan
denganmu. Kau jauh membuatku dewasa. “
“Terima kasih Aruna atas
segalanya. Maaf sekali lagi. Sebelum aku menghilang, jauh dilubuk hatiku aku
menyadari rasamu ada pada diriku. Aku menyayangimu. Kau harus tahu, disini---di
hatiku. Kau masih kekasihku.” Usapan lembut menyapu helaian rambut Aruna.
“Aku pergi Aruna. Jaga
dirimu. Cinta adalah harapan, sayang. Suatu saat kau akan mendapatkan cintaku
lagi, percayalah walau bukan dari sosok diriku. Dan aku…akan tetap masih akan
menunggumu disini, walaupun didunia aku tak bisa memilikimu.” Seulas senyum Rian untuk Aruna perlahan
memudar
“ Aku takut kehilangan
dirimu kedua kalinya Rian. Aku takut…jangan tinggalkan aku. Aku mohon.”
Lagu naff – Kau masih
kekasihku yang menjadi dering telpon di HPnya terpaksa membangunkan Aruna dari
mimpi kehadiran Rian. Sejenak Aruna linglung tak mengerti apa yang baru saja
terjadi.
Rian sebegitu kangen kah aku
akan sosok mu, hingga aku bermimpi tentang hadirmu.
Andai saja waktu bisa terulang kembali
Akan kuserahkan hidupku di sisimu
Namun ku tahu itu takkan mungkin terjadi
Rasa ini menyiksaku
Sungguh sungguh menyiksaku
Akan kuserahkan hidupku di sisimu
Namun ku tahu itu takkan mungkin terjadi
Rasa ini menyiksaku
Sungguh sungguh menyiksaku
Jauh di lubuk hatiku
Masih terukir namamu
Jauh di dasar jiwaku
Engkau masih kekasihku
Masih terukir namamu
Jauh di dasar jiwaku
Engkau masih kekasihku
(Kau masih kekasihku – naff)
©Illa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar