Minggu, 13 Januari 2013

Kau Masih --- Kekasih (ku)



Telah berjam-jam Aruna duduk di depan laptopnya. Tak ada satupun kata yang diketiknya untuk tugas bahasa indonesianya membuat cerpen. Terlalu banyak yang hadir dalam kehidupannya. Yang dia lakukan hanya lah berinteraksi didunia maya. Mencari inspirasi dalam setiap tulisan orang. Tapi tak ada secuilpun kejadian yang seperti kisah hidupnya.
Alunan lagu hingga akhir waktu dari nineball lah yang akhirnya bisa membuat tangannya dengan lancar menceritakan kisah hidupnya. Aruna tanpa berpikir lagi, bahwa yang ditulisnya akan menjadi konsumsi teman-temannya. Dia tanpa privasi lagi, karena dengan tulisannya kisah hidupnya terungkap.
---
Hingga Akhir Waktu
Karya : Aruna Dinata
Ini kali keduanya aku bersama dengannya. Dia Rian Aprianto. Kegelapan malam membuat semuanya samar-samar terlihat, bus terus melaju membawa teman-temanku yang hampir semuanya berteman dengan dunia mimpi karena didera kelelahan akut setelah satu hari penuh mengikuti karya wisata yang diselenggarakan OSIS di SMA ku.
Namun dia, masih kokohnya berdiri disamping tempat duduk Anty. Kala Anty terlelap badannya lah yang menompang Anty hingga tak terjatuh. Berapa kali aku menoleh pada posisinya. Dia masih sama, tak terasa air mataku hampir meleleh. Seandainya aku yang disana? Kecemburuan seakan menyakiti rongga dadaku. Aku iri dengan Anty, tak tahu kah Rian jikalau aku masih sangat menyayangi walaupun masa SMP ku telah berlalu.
Yup..aku satu SMP dengan Rian, telah 6 tahun aku bersamanya. Bayangan itu kembali masuk didalam sukma ku. satu detikpun aku tak perna lupa kenangan bersamanya. Bagiku semua sangat  berarti. Empat kali jika aku total aku bersamanya dalam karya wisata, dua kali dimasa SMP ku dan dua kali dimasa SMA ku. tak sedetikpun dia pernah melakukan hal seperti yang dia lakukan dengan Anty.
Kala itu, hujan turun lebat. Aku mengeratkan jaketku. Kilas balik Rian berputar putar dalam ingatanku, tak tersusun rapi. Rian pernah bersamaku, rian pernah suka denganku. Walaupun aku sadar sukanya anak satu SMP hanya lah cinta monyet. Tak bisa dipercaya. Itu lah yang aku tahu, yang aku dengar dari setiap orang yang ada disekitarku. Tapi itu lah yang menguatkan ku, bagian yang menghiburku. Aku sangat suka bersamanya, saat itu dia mengajarkanku untuk tertawa dan lebih rapi mengemas emosiku. Itulah Rian ku...Rian kecil yang culun, yang tak pernah mau memperlihatkan kesusahan hidupnya. Rian Aprianto lah yang mampu merapuhkan Aruna illayah yang sekeras batu karang.
Kini, waktu kian berlalu. Rian kecilku tumbuh menjadi sosok yang dikagumi. Mungkin aku lah yang harus dibangunkan dari tidur panjangku bahwa sungguh aku tak akan pernah pantas mendapatkannya. Tak secuilpun dari diriku yang dapat kusandingkan dengannya. Mungkin saat ini Anty lah yang tepat bersamanya. Mereka kelihatan serasi.
Ku toreh kan wajahku menghadap jendela. Menikmati pemandangan indah lampu-lampu rumah penduduk dikala malam. Ku hirup wanginya air hujan yang menyapu jalanan. Menenangkan ku. tak lama aku balikkan wajahku menghadap aquariysta – sahabatku.
“ Riys..aku menyadari satu hal. Aku tak mungkin tak mengikhlaskan hubungan Rian dengan Anty. Karena jikalau aku begitu, berat bagi Rian untuk mendapatkan Anty. Aku tahu, aku akan sakit jika mereka bersama. Tapi jujur aku lebih sakit jikalau aku melihat Rian seperti ini. Melakukan apapun untuk Anty.. tapi Anty sekan menutup mata dan telinga atas pa yang telah dilakukan Rian untuknya. Dia masih tetap tak mau menerima Rian, tanpa sebuah alasan yang jelas. Mungki keikhlasanku pun berpengaruh.”
“ berjuanglah Aruna…semakin kau genggam kuatnya dia layaknya kamu menggenggam pasir di pantai. Dia akan semakin lepas dari tanganmu. Biarkan dia bahagia dengan pilihannya Aruna. Kadang keikhlasan kita itulah cerminan kedewasaan kita. Dan apabila dia ditakdirkan bersamamu, dia akan kembali denganmu.”
“ thanks riys..ya udah..ya udah ntar Riys cariin Aruna cowok ya biar lupa sama Rian.”
“ Siip..”
-_-
Tak terasa telah seminggu berlalu, dan pikiranku berdiam diri. Kosong dan hampa. Tak ku izinkan sedetikpun bayangan Rian masuk kedalam pikiranku. Bukan berarti aku melupakan nya. Karena aku yakin seberapa kuat aku melupakannnya, semakin sayang aku dengannya.
Aquariysyta pun semakin  sering mengalihkan perhatianku apabila berpapasan dengan Rian yang mendekati Anty. Sekarang, sampai larut malam kadang aku membuka akun facebook ku. sejak itu aku menyadari bahwa aku lebih sering mencurahkan kegundahanku melalui facebook.
                                                                     -_-
Hari ini adalah hari ulangtahunku. Dan aku berdiri disini, tepat 3 bulan setelah aku putuskan untuk ikhlas tentang itu. Dan sekarang keikhlasan itu jauh lebih dibutuhkan. Rian benar telah pergi dalam hidupku. Mungkin itu wujud keadilan yang aku pernah minta dihadirkan seperti ini oleh Tuhan. Bukan membiarkan diriku dengan seorang bayangan lain. Membiarkan Rian dengan Anty. Tetapi membiarkan pergi untuk selamanya. Adil dengan keduanya meneteskan air mata, aku dan Anty.
Air mataku menetes. Mengingat Anty, rasanya aku ingin meluapkan emosiku. Ingin menyalahkan semuanya dengannya. Anty tak pernah sedikitpun merespon Rian, aku benci itu. Aku terlalu sakit untuk menghilangkan Rian dalam bayang hidupku dan Rian tanpa sadar sakit karena Anty.  Ya Tuhan,,,
Tapi aku sadar, semuanya memiliki skenario. Takdir yang digariskan Tuhan.  Rian pergi karena mau membelikan sebuah buku untuk Anty – titipan Anty. Rian telah memilih Anty, aku tak boleh menyalahkan itu, bersamaku pun aku tak bisa menjamin kebahagiannya.
Di bawah pohon kamboja yang masih menyembulkan bunganya ini lah aku mengamati mereka dari kejauhan. Ku lihat Anty menangis, tapi jauh meletihkan mata ketika melihat kedua orang tuanya. Tak ada air mata, mereka hanya diam seolah tak percaya. Aku terlalu sakit untuk kesana. Cukup masa laluku yang mengentahui rasaku terhadapnya. Air mata ku pun menetes hanya sedetik karena telah aku pastikan tak ada air mata untuknya. Dia ada disini. Di hatiku... hingga akhir waktu.
***
Amor es esperanza ( Cinta adalah harapan ). Ucapan itu kembali tergiang di telinga Aruna. Rian telah lama pergi tapi semua tentangnya tak akan pernah mati dalam diri Aruna. Walaupun telah berupaya dikubur.
Aruna beranjak dari tempatnya duduk. Matanya berkunang. Akhirnya dia putuskan untuk tidur.
---
“ Rian kenapa kau disini. Bukankah dunia kita telah berbeda sekarang? “ Aruna menatap Rian tidak percaya.
“ aku tahu dunia kita telah berbeda. Aku hanya ingin menemui seorang Aruna. “ Rian hanya berdiri diam menatap Aruna.
“ Kau harus tahu. Butuh waktu lama mengubur semua tentangmu, Rian. Kenapa kau meninggalkanku Rian Aprianto? “
“ Maafkan aku, Aruna. Sungguh aku  telah banyak menyakitimu bahkan hingga akhir waktupun aku tak bisa menyadari bahwa kau jauh menyayangiku. “
“Aku telah mengikhlaskan semua tentangmu Rian. Kau salah menilaiku, aku bangga pernah mengukir harapan denganmu. Kau jauh membuatku dewasa. “
“Terima kasih Aruna atas segalanya. Maaf sekali lagi. Sebelum aku menghilang, jauh dilubuk hatiku aku menyadari rasamu ada pada diriku. Aku menyayangimu. Kau harus tahu, disini---di hatiku. Kau masih kekasihku.” Usapan lembut menyapu helaian rambut Aruna.
“Aku pergi Aruna. Jaga dirimu. Cinta adalah harapan, sayang. Suatu saat kau akan mendapatkan cintaku lagi, percayalah walau bukan dari sosok diriku. Dan aku…akan tetap masih akan menunggumu disini, walaupun didunia aku tak bisa memilikimu.”  Seulas senyum Rian untuk Aruna perlahan memudar
“ Aku takut kehilangan dirimu kedua kalinya Rian. Aku takut…jangan tinggalkan aku. Aku mohon.”
Lagu naff – Kau masih kekasihku yang menjadi dering telpon di HPnya terpaksa membangunkan Aruna dari mimpi kehadiran Rian. Sejenak Aruna linglung tak mengerti apa yang baru saja terjadi.
Rian sebegitu kangen kah aku akan sosok mu, hingga aku bermimpi tentang hadirmu.
Andai saja waktu bisa terulang kembali
Akan kuserahkan hidupku di sisimu
Namun ku tahu itu takkan mungkin terjadi
Rasa ini menyiksaku
Sungguh sungguh menyiksaku
Jauh di lubuk hatiku
Masih terukir namamu
Jauh di dasar jiwaku
Engkau masih kekasihku
(Kau masih kekasihku – naff)



©Illa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar