Senin, 28 Januari 2013

Lirik Lagu Avril Lavigne-Tomorrow

And I wanna believe you
When you tell me thal I'll be ok
Ya I try to believe you
But I don't

When you say that's gonna be
It always turns out to be a different way
I try to believe you
Not today, today, today, today, today . . .

[chorus:]

I don't know how to feel
Tomorrow, tomorrow
I don't know what to say
Tomorrow, tomorrow
Is a different day

It's always been up to you
It's turning around
It's up to me
I'm gonna do what I have to do
Just do

Gimme a little time
Leave me alone a little while
Maybe it's not too late
Not today, today, today, today, today . . .

[chorus:]


I don't know how to feel
Tomorrow, tomorrow
I don't know what to say
Tomorrow, tomorrow
Is a different day

And I know I'm not ready
Maybe tomorrow

And I wannna believe you
When you tell me thal I'll be ok
Ya I try to believe you
Not today, today, today, today, today . . .

Tomorrow it may change
Tomorrow it may change
Tomorrow it may change
Tomorrow it may change

Sabtu, 26 Januari 2013

Kalimat-Kalimat Menarik

Hai aku bawa kalimat-kalimat yang menurut aku menarik, bijak, dan bagus dari novel-novel yang pernah aku baca. Silahkan baca :)

***

  • Teman sejati adalah teman yang membuat dirimu menjadi orang yang lebih baik tanpa harus mengubah kepribadianmu. ^Trio Weirdo-Charon^
  • Amor es esperanza (cinta adalah harapan). ^Lukisan Hujan-Sitta Karina^
  • Kerjakanlah apa yang sedang kamu kerjakan dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh atau kamu nggak akan pernah berhasil dengan apa yang kamu kerjakan. ^Beauty and The Best-Luna Torashyngu^
  • Sahabat ya sahabat. Kepercayaan mereka tak ternilai harganya dan harus dijaga sampai mati. ^Satsuki Sensei-Primadona Angela^
  • Perasaan wanita harus dihargai. Semenyebalkan apapun, perasaan wanita patut diberi tempat karena perasaan tersebut merupakan ungkapan hati yang tulus. ^Lukisan Hujan-Sitta Karina^
  • .... "Mi hermana querida, te protegeré siempre. (Adikku sayang, aku akan selalu melindungimu)".... ^Lukisan Hujan-Sitta Karina^
  • Sahabat bukan cuma ada waktu sahabatnya bilang dia lagi ada masalah, tapi juga saat sahabatnya nggak sadar bahwa dia sedang ada masalah. ^Jun!!!-Mia Arsjad^
  • ...... "Kau tidak boleh menyia-nyiakan hidupmu. Kau masih punya banyak hal untuk dilakukan"....... ^7 Hari menembus waktu-Charon^
  • Masa lalu itu bagian dari hidup kita, harus diterima bahkan seharusnya jadi pemicu untuk menjadikan masa depan lebih baik. ^Jun!!!-Mia Arsjad^
  • Saat Tuhan membuat seseorang dalam posisi sulit, orang itu akan jadi lebih kuat dan semakin menghargai apa yang dia miliki. Misalnya keluarga. ^Jun!!!-Mia Arsjad^
  • Quand vous regardez le passé ou maintenant il existe et a justifie le futur est visible. (Kalau kita menatap masa lalu yang ada pada masa sekarang, masa depan pun akan tampak). "Kata-kata ahli filsafat perancis". ^Our Zoo 1-Akiyo Kurosawa^
***
P.S. ^Judul novel/komik-Nama pengarang^

Minggu, 20 Januari 2013

SIMPLE PLAN-SAVE YOU



Take a breath, I pull myself together
Just another step until I reach the door.
You’ll never know the way it tears me up inside to see you..
I wish that I could tell you something to take it all away.
[Chorus] Sometimes I wish I could save you,
And there’s so many things that I want you to know.
I won’t give up ’til it’s over.
If it takes you forever, I want you to know..
When I hear your voice,
It’s drowning in the whispers.
It’s just skin and bones,
There’s nothing left to take.
And no matter what I do,
I can’t make you feel better.
If only I could find the answer to help me understand..
[Chorus] Sometimes I wish I could save you,
And there’s so many things that I want you to know.
I won’t give up ’til it’s over.
If it takes you forever, I want you to know that.
If you fall, stumble down, I’ll pick you up off the ground.
If you lose faith in you, I’ll give you strength to pull through.
Tell me you won’t give up,
‘Cause I’ll be waiting if you fall.
You know I’ll be there for you.
If only I could find the answer to take it all away.
[Chorus] Sometimes I wish I could save you,
And there’s so many things that I want you to know.
I won’t give up ’til it’s over.
If it takes you forever, I want you to know..
I wish I could save you..
I want you to know..
I wish I could save you..

Senin, 14 Januari 2013

KENANGAN


Ini request dari seseorang. Sorry yah ceritanya baru dibuatin sekarang. mudah-mudahan pada suka. Sorry typo dan ceritanya nggak bagus aku baru coba-coba buat cerita soalnya. Masih amatiran hehehe J
Ini asli hasil karyaku lho J

03.30 P.M. 11 Januari 2012

Angin yang bertiup lumayan kencang membuat rambut yang sengaja aku urai menjadi lumayan berantakan tetapi itu tak membuatku bergegas meninggalkan tempat ini. Sedikit rasa menyesal terselip di hatiku , mengapa sebelum ke sini tak terpikir olehku untuk memakai baju yang cukup tebal? Tetapi tak apalah setidaknya aku masih bisa berada di atas tempat ini menatap kagum pada bangunan yang tidak pernah direnovasi ini, sepertinya.

Hmmm…. Tempat ini mempunyai banyak kenangan yang tak akan pernah aku lupakan. Disetiap sudutnya ada satu kisah nyata yang baru kusadari sekarang itu terasa aneh dan menunjukkan betapa bodohnya aku dulu.

Menangis, tertawa dan mempunyai banyak masalah di tempat ini yang hampir semua masalahnya aku selesaikan tanpa pikir panjang apa akibat yang akan aku dapatkan kelak. Tetapi itulah yang membuat kisah cintaku menjadi indah dan setidaknya memberikan pelajaran berharga tentang cinta padaku.

☼☼☼

06.45 A.M. 05 Agustus 2006

Bruk…

“Aw…” Aku meringis kesakitan saat seseorang menabrak bahuku dengan keras. Aku mendongakkan kepala, menatap orang yang tidak sengaja atau sengaja-mempunyai maksud yang lain- menabrakku. Orangnya cukup tinggi setidaknya melebihi tinggiku dan itulah alasan yang  membuat aku harus mendongakkan kepalaku.

“Ups… sorry. Satu sama,” ucapnya dan berlalu pergi tanpa menunggu apakah aku akan membalas ucapannya tadi.

Aku hanya mendesis kesal teringat kejadian satu hari yang lalu. Saat aku yang tengah membayar cappuccino yang kubeli, tanganku ditarik dari Vaya dan mengajakku melerai pertengkeran yang dibuat oleh Rika saat mereka sedang menungguku membeli cappuccino tadi, tentu setelah mendengar perkataan Vaya aku mengikuti dia berjalan dengan langkah cepat dan membiarkan tanganku memerah akibat pegangan Vaya terlalu kuat, tetapi hal yang seharusnya tidak perlu terjadi saat kami sedang heboh-hebohnya menuju tempat Rika berantem malah terjadi dan membuat waktu kami menjadi sedikit berkurang. Aku menabrak cowok yang sedang berjalan dari arah berlawan, naasnya cappuccino yang ku beli tadi malah tumpah ke baju putihnya, parahkan. Aku menyadari ini semua karena ketidak hati-hatianku, aku buru-buru meminta maaf dan mencoba menghilangkan noda yang dibuat oleh cappuccino ku dengan tangan tetapi bukannya cappuccino itu menghilang dari bajunya malah noda itu melebar, aduh waktu itu aku benar-benar merasa menyesal dan meminta maaf berkali-kali. Dan parahnya lagi yang kutabrak tadi adalah kakak kelasku kapten basket yang sebentar lagi mungkin akan berhenti menjadi kapten karena dia telah menginjak bangku kelas 12, Rubi Andika Diantara. Dia hanya memandangku dengan muka masam dan pergi tanpa memberikan maaf padaku aku menghentak-hentakkan kakiku kesal. Tetapi aku tak sempat untuk benar-benar memikirkan kekesalanku, karena Vaya kembali menarik tanganku-padahal aku mengalami kejadian tadi,  Vaya juga mengambil andil karena dia yang menarik tanganku dengan tak sabar dan sekarang dia menarik tanganku kembali-. Akhirnya, aku kembali pasrah mengikuti langkah Vaya dan sekarang aku sedikit lebih hati-hati mengikutinya.

Setelah mengingat kejadian kemarin dan tadi aku kembali merasa kesal, rasanya amarahku telah naik ke ubun-ubun menunggu waktunya meledak. Huh, untung dia kakak kelas kalau tidak, aku telah mendatanginya dengan teman-temanku dan melabraknya habis-habisan.

☼☼☼

03.40 P.M. 12 Januari 2012
Aku merasa geli sendiri saat aku mengingat pertama kali aku berbicara dengan Rubi yang dulunya sangat terkenal di SMA-ku ini. Padahal dulu waktu pertama kali aku masuk SMA, aku mengaguminya dan mengharapkan untuk berbicara dengannya. Dan kemudian kelas 11 aku malah membencinya, berharap tak melihat mukanya setiap hari di sekolah.

“Sa, ini minumannya. Sorry yah lama,” ucap seseorang yang mendekatiku dan kemudian merangkulku menggunakan tangan kirinya.

“Iya nggak apa-apa kok, Bi.” Aku menjawab ucapannya dengan tersenyum manis ke arahnya dan menatap matanya dengan lembut.

“Yuk, kita ke tempat biasa.” Dia menarikku menuju taman belakang sekolah yang terkenal dengan kesejukan dan kenyamanannya. Mudah-mudahan tamannya belum berubah, mungkin tidak sama persis seperti tahun sebelum-sebelumnya aku berada di SMA Cielo ini.

“Di sini udaranya masih sejuk yah, Bi. Sama kayak terakhir kita di sini.” Aku menyandarkan kepalaku di lengannya yang kokoh saat kami telah duduk di bangku taman yang biasa kami duduki saat istirahat berlangsung tentunya dengan sahabat-sahabat kami yang lain, bukan hanya kami berdua.

“Iya,” jawabnya singkat dan kami pun larut dalam kenang-kenangan yang kami buat di taman ini. Kenangan yang nggak mungkin aku lupakan, karena hampir semua kenangan di SMA, berpusat di taman ini.

☼☼☼

09.30 A.M. 01 Desember 2006

Aku menatap kosong ke arah bunga-bunga yang sedang bermekaran, membuat bermacam-macam kupu-kupu warna-warni bergantian hinggap di satu bunga yang satu dengan yang lain. Sungguh indah, bagaimana tidak, momen ini jarang terjadi di taman belakang sekolah. Sehingga banyak siswa siswi menunggu momen ini. Momen yang mereka anggap hanya terjadi satu kali setahun. Tetapi aku tak terlalu memandang pemandangan indah itu. Sekarang otakku terasa lebih ruwet dari sebelumnya seperti ada tali-tali kusut di dalam otak, hufft.

Aku bingung mengapa sekarang aku sering deg-degan saat melihat matanya bahkan saat berhadapan dengannya, aku sering lebih susah untuk mententramkan degup jantungku. Warna matanya yang coklat kehitam-hitaman sangat sulit dilupakan, membuatku selalu tidak fokus membaca novel maupun buku pelajaran anehkan? Apa aku sudah jatuh cinta padanya? Seperti yang diucapkan Vaya waktu aku sedang curhat dengan dia. Oh tidak, bagaimana mungkin? Selama 3 bulan ini dia tak pernah menunjukkan sikap romantis kepadaku, yang dia tunjukkan hanya sikap saling membenci yang sering kami kobar-kobarkan selama ini.

Tiba-tiba ada sebuah tangan menyentuh bahuku dengan sedikit kuat. Aku tersentak kaget dan menoleh dengan cepat ke arah datangnya tepukan. Aku menghela nafas saat melihat siapa yang menepukku tadi dan menentramkan jantungku yang mulai berdegup-degup tak jelas, berharap dia tak mendengar degupan jantungku itu.

“Ngapain lo di sini, mana sahabat-sahabat lo yang seperti pengawal itu,” ejeknya dan duduk di sebelahku.

Aku hanya mendengus kesal. Tega banget kan dia bilang sahabat-sahabatku sebagai pengawal, padahal dia tak tahu bagaimana berartinya sahabatku itu bagi diriku, hatiku berkata dengan mirisnya. Dia memandangku aneh, membuatku jadi sedikit salting. Dan kami pun hanya terdiam menatap ke arah pandangankju tadi. Mungkin dia heran, tumben-tumbenan aku nggak niat membalas hinaannya tadi yang lumayan nyelekit itu.

“Aku suka lo,” ucapku tanpa sadar dan menatap kosong arah depan. Butuh beberapa detik kemudian aku menyadari apa yang aku katakan dengannya tadi, dan aku sepertinya menyesal mengatakan itu. Aku kan belum sepenuhnya sadar kalau aku benar-benar mencintainya atau tidak. Tapi aku malah mengatakannya. Ya sudahlah, itu sudah terlanjur.

Saat aku melihat ke arahnya, dia malah memandang ke depan tanpa menunjukkan ekspresi apa pun. Bertambah banyaklah penyesalan aku mengatakan itu  padanya. Yah, sepertinya aku memang diharuskan pasrah kalau dia menolakku bahkan mungkin pergi meninggalkanku dan menganggap tak pernah mengenalku sama sekali bahkan tak mengingatku pernah menjadi musuhnya, miris bangetkan!  Aku merasa sekarang aku sedang berada pasa sebuah komik bergenre remaja yang menceritakan kisah remaja seorang anak SMA yang ditolak cintanya dan akulah yang memerankan tokoh cewek itu ditolak oleh pangeran terganteng di SMA itu, berambut ala harajuku, hidung yang mancung dan berkulit putih mulus, dan sangat tidak cocok dengan aku sebagai tokoh ceweknya yang berambut panjang, dikepang dua, berkacamata tebal dengan bingkai biasa, kulitku yang kusam karena tak pernah dirawat gara-gara penuh kesibukan belajar, les, dan bekerja paruh waktu. Oh aku membayangkan diriku benar-benar terlihat miris di kisah itu.

Tak sadar karena asik membayangkan betapa mirisnya aku di dalam komik itu, dia telah memandangku mungkin dalam waktu yang cukup lama. Aku yang mulai tersadar pun langsung melihat ke arahnya dengan tampang pasrah banget -_-.

“Oke kita pacaran mulai sekarang,” ucapnya cuek dan berlalu meninggalkanku yang terbengong-bengong atas jawabannya tadi. Hufft… aku memang salah mencintai orang sepertinya.

☼☼☼

02.00 P.M. 30 Desember 2006

Haha…. Sepertinya aku salah tanggap dengan omongan dia dua puluh sembilan hari yang lalu. Kalau dia serius mengajakku untuk berpacaran. Oke…. Memang sikap dia tak seperti dulu lagi sebelum aku mengucapkan kata suka kepadanya. Dia mulai berhenti menghinaku dan mulai bersikap sedikit lembut padaku.

Tetapi yang aku lihat di depan mataku sekarang, meruntuhkan semuanya. Dia sedang tertawa dengan riangnya di depan Vaya padahal di depanku dia tak pernah menunjukkan itu semua. Di depanku dia hanya memberikan senyum miring saat aku menceritakan kejadian lucu. Haha…. Dan aku baru sadar tak ada yang pernah mengungkit kejadian hari itu, malah tak ada seorang teman pun yang tahu. Mungkin saat itu dia hanya bercanda atau aku tak tahulah alasan apa yang ada dibenaknya saat itu.

Vaya adalah salah satu sahabatku yang paling dekat denganku dan dialah yang memberi tahuku kalau aku mencintai Rubi. Tapi sebenarnya salahku juga saat curhat dengannya aku tak pernah menyebutkan siapa cowok yang membuatku seperti itu. Tapi yah mungkin ini salahku juga kali yah tak pernah meminta penjelasan tentang semua ini dengan Rubi dan akhirnya malah aku sendiri yang salah paham dan merasakan sakitnya.

Mereka berjalan berdua menuju ke mobil yang dibawa Rubi dan menaiki mobil itu pergi tanpa aku tahu kemana, mungkin ke rumah Vaya? Satu lagi yang membuat Vaya unggul dariku, aku tak pernah menaiki mobil itu. Aku meninggalkan taman dimana tempat aku melihat semua kejadian yang membuat hatiku sakit ini.

☼☼☼

05.00 P.M. 31 Desember 2006

Beberapa jam yang akan datang tahun 2006 akan berganti. Mungkin aku tak akan pernah merayakan datangnya tahun baru seperti tahun-tahun sebelumnya. Mereka semua sepertinya mempunyai acara masing-masing tanpa pernah mengajakku.

Jam terus berganti dan aku masih terpaku di balkon kamar menatap ke langit yang bermula berwarna kebiru-biruan berganti warna kekuning-kuningan dengan semburat warna kemerahan yang kemudian berganti dengan warna kehitam-hitaman.

Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Membuatku dengan malas menuruni tangga dan membuka pintu depan.

“Surprise,” teriak Rika dengan keras.

Aku menutup kedua telingaku, “Ada apa sih, Ka, teriak malam-malam gini,” ucapku jengkel.

“Ayo cepetan, Sa, lo harus ganti baju. Cepet yah lima menit waktu untuk lo ganti baju.” Rika mendorongku menuju kamar. Aku menurutinya dan mengganti bajuku dengan cepat. Kemudian menghampirinya yang sedang membaca majalah di ruang tamu.

“Kita pergi sekarang.”

“Mau kemana sih? Bentar pamit dulu ke bonyok.”

“Iya… iya… gue tunggu di mobil.”

Aku pun pamit kepada kedua orang tuaku dan menyusul Rika yang sudah duluan di mobilnya.

Aku memandang takjub ke arah pantai buatan. Tempat yang dituju Rika tadi. Tempat yang indah dan di sana ternyata sudah ada Vaya yang melambai-lambai ke arah kami dengan beberapa orang cowok. Rika berlari-lari menghampiri Vaya yang sedang memanggang sesuatu entah apa dan aku hanya berjalan dengan lambat karena aku mengingat apa yang terjadi kemarin. Rika berbalik badan dan kembali menghampiri aku yang berjarak sedikit jauh darinya, dia berlari menghampiriku seperti melupakan sesuatu.

“Oh yah, ada yang nungguin lo di menara itu. Silahkan ke sana yah.” Dan dia kembali berlari-lari ke arah Vaya. Aku yang sedikit penasaran berjalan ke arah menara itu. Kira-kira siapa yah yang menungguku di sana itu adalah salah satu contoh pertanyaan yang berkecamuk di hatiku.

Setelah menaiki satu demi satu tangga aku mulai melihat seseorang dengan rambut hitam yang bersinar diterpa oleh sinar bulan malam itu. Aku sedikit terpesona sebelum menyadari bahwa cowok itu adalah Rubi.

“Hi.” Dia menyapaku yang mendekatinya. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk aku meluruskan semuanya. Sehingga aku mungkin tak akan salah paham lagi.

“Hi, ada apa lo manggil gue ke sini.”

“Nggak, gue cuma mau bilang sesuatu.”

“Gue juga mau bilang sesuatu sama lo.”

“Oke silahkan  lo mau bilang apa. Setelah lo selesai baru nanti gue yang bakalan bicara.”

“Gue mau minta kejelasan aja sama lo. Apa maksud lo yang bicara tentang pacaran?” aku bertanya langsung ke masalah pokoknya aku malas untuk bertele-tele sekarang.

“Oh itu, gue akan jawabnya nanti aja,” ucapnya misterius.

“Oh yah, selamat lo udah jadian sama Vaya,” ucapku tulus dan menyalami paksa tangannya.

Dia menatapku dengan pandangan aneh. “Gue nggak pernah jadian sama Vaya.”

“Terus kemarin bukannya kalian pulang bareng dan sepertinya kalian cukup mesra.”

“Oh itu, kita ada memang ada rencana rahasia lagian kemarin bukan cuma Vaya kok yang pulang bareng sama gue mereka juga ikut.” Dia menunjuk ke arah kerumunan Vaya, Rika dan orang yang tak ku kenal. Aku mengernyitkan dahi bingung.

“Gue yang ngerencanain semua ini dengan bantuan mereka. Gue sebenarnya udah lama ingin bicara sama lo berdua aja setelah kejadian di taman itu. Dan sekaranglah waktunya, gue sengaja buat acara ini agar gue bisa bicara dengan lo.

“Gue sebenarnya udah suka sama lo sebelum lo ucapin suka waktu itu di taman. Gue syok waktu lo bilang itu dan gue nggak tahu mau bilang apa. Dan waktu gue liat lo dengan pandangan nggak fokus gue merasa kalau lo nggak sadar udah ngucapin itu semua. Pada akhirnya gue juga sedikit aneh karena denggan entengnya gue bilang kita pacaran.

“Setelah kejadian itu gue sebenarnya merasa senang. Dan besoknya gue berharap kamu bicarain kejadian itu tetapi sikap lo biasa aja dan buat gue mulai sangsi jangan-jangan lo nggak sadar waktu ngucapin itu.

“Dan sekarang gue mau lo dengar. Gue suka sama lo, gue cinta sama lo. Mau nggak lo jadi cinta pertama dan terakhir gue. Gue tau gue orangnya nggak so sweet tapi gue harap lo nggak liat dari itu semua. Mau kan lo jadi pacar gue?” tanyanya dengan menatap mataku dengan lembut. Setelah dia menjelaskan panjang lebar tentang semuanya dan itu sukses membuatku terbengong-bengong. Dalam durasi yang cukup lama akhirnya aku mengangguk bertepatan dengan suara kembang api yang bersahut-sahutan di atas sana. Vaya dan yang lainnya meneriaki happy new year.

“Bener, makasih sayang, Princesa Querida love you and happy new year,” bisiknya lembut.

☼☼☼

04.10 P.M. 12 Januari 2012

“Sa, udah selesai. Anak-anak bentar lagi selesai les lho.”

Aku memandang seseorang yang telah menjadi cinta pertama dan terakhirku itu. Dan menganggukkan kepala. Dia merangkulku erat berjalan menuju tempat mobil kami diparkir. Aku senang hari ini telah menghabiskan waktuku untuk mengenang semuanya yang menjadi awal kisah cintaku.

☼☼☼
THE END
©Zizi

Minggu, 13 Januari 2013

Kau Masih --- Kekasih (ku)



Telah berjam-jam Aruna duduk di depan laptopnya. Tak ada satupun kata yang diketiknya untuk tugas bahasa indonesianya membuat cerpen. Terlalu banyak yang hadir dalam kehidupannya. Yang dia lakukan hanya lah berinteraksi didunia maya. Mencari inspirasi dalam setiap tulisan orang. Tapi tak ada secuilpun kejadian yang seperti kisah hidupnya.
Alunan lagu hingga akhir waktu dari nineball lah yang akhirnya bisa membuat tangannya dengan lancar menceritakan kisah hidupnya. Aruna tanpa berpikir lagi, bahwa yang ditulisnya akan menjadi konsumsi teman-temannya. Dia tanpa privasi lagi, karena dengan tulisannya kisah hidupnya terungkap.
---
Hingga Akhir Waktu
Karya : Aruna Dinata
Ini kali keduanya aku bersama dengannya. Dia Rian Aprianto. Kegelapan malam membuat semuanya samar-samar terlihat, bus terus melaju membawa teman-temanku yang hampir semuanya berteman dengan dunia mimpi karena didera kelelahan akut setelah satu hari penuh mengikuti karya wisata yang diselenggarakan OSIS di SMA ku.
Namun dia, masih kokohnya berdiri disamping tempat duduk Anty. Kala Anty terlelap badannya lah yang menompang Anty hingga tak terjatuh. Berapa kali aku menoleh pada posisinya. Dia masih sama, tak terasa air mataku hampir meleleh. Seandainya aku yang disana? Kecemburuan seakan menyakiti rongga dadaku. Aku iri dengan Anty, tak tahu kah Rian jikalau aku masih sangat menyayangi walaupun masa SMP ku telah berlalu.
Yup..aku satu SMP dengan Rian, telah 6 tahun aku bersamanya. Bayangan itu kembali masuk didalam sukma ku. satu detikpun aku tak perna lupa kenangan bersamanya. Bagiku semua sangat  berarti. Empat kali jika aku total aku bersamanya dalam karya wisata, dua kali dimasa SMP ku dan dua kali dimasa SMA ku. tak sedetikpun dia pernah melakukan hal seperti yang dia lakukan dengan Anty.
Kala itu, hujan turun lebat. Aku mengeratkan jaketku. Kilas balik Rian berputar putar dalam ingatanku, tak tersusun rapi. Rian pernah bersamaku, rian pernah suka denganku. Walaupun aku sadar sukanya anak satu SMP hanya lah cinta monyet. Tak bisa dipercaya. Itu lah yang aku tahu, yang aku dengar dari setiap orang yang ada disekitarku. Tapi itu lah yang menguatkan ku, bagian yang menghiburku. Aku sangat suka bersamanya, saat itu dia mengajarkanku untuk tertawa dan lebih rapi mengemas emosiku. Itulah Rian ku...Rian kecil yang culun, yang tak pernah mau memperlihatkan kesusahan hidupnya. Rian Aprianto lah yang mampu merapuhkan Aruna illayah yang sekeras batu karang.
Kini, waktu kian berlalu. Rian kecilku tumbuh menjadi sosok yang dikagumi. Mungkin aku lah yang harus dibangunkan dari tidur panjangku bahwa sungguh aku tak akan pernah pantas mendapatkannya. Tak secuilpun dari diriku yang dapat kusandingkan dengannya. Mungkin saat ini Anty lah yang tepat bersamanya. Mereka kelihatan serasi.
Ku toreh kan wajahku menghadap jendela. Menikmati pemandangan indah lampu-lampu rumah penduduk dikala malam. Ku hirup wanginya air hujan yang menyapu jalanan. Menenangkan ku. tak lama aku balikkan wajahku menghadap aquariysta – sahabatku.
“ Riys..aku menyadari satu hal. Aku tak mungkin tak mengikhlaskan hubungan Rian dengan Anty. Karena jikalau aku begitu, berat bagi Rian untuk mendapatkan Anty. Aku tahu, aku akan sakit jika mereka bersama. Tapi jujur aku lebih sakit jikalau aku melihat Rian seperti ini. Melakukan apapun untuk Anty.. tapi Anty sekan menutup mata dan telinga atas pa yang telah dilakukan Rian untuknya. Dia masih tetap tak mau menerima Rian, tanpa sebuah alasan yang jelas. Mungki keikhlasanku pun berpengaruh.”
“ berjuanglah Aruna…semakin kau genggam kuatnya dia layaknya kamu menggenggam pasir di pantai. Dia akan semakin lepas dari tanganmu. Biarkan dia bahagia dengan pilihannya Aruna. Kadang keikhlasan kita itulah cerminan kedewasaan kita. Dan apabila dia ditakdirkan bersamamu, dia akan kembali denganmu.”
“ thanks riys..ya udah..ya udah ntar Riys cariin Aruna cowok ya biar lupa sama Rian.”
“ Siip..”
-_-
Tak terasa telah seminggu berlalu, dan pikiranku berdiam diri. Kosong dan hampa. Tak ku izinkan sedetikpun bayangan Rian masuk kedalam pikiranku. Bukan berarti aku melupakan nya. Karena aku yakin seberapa kuat aku melupakannnya, semakin sayang aku dengannya.
Aquariysyta pun semakin  sering mengalihkan perhatianku apabila berpapasan dengan Rian yang mendekati Anty. Sekarang, sampai larut malam kadang aku membuka akun facebook ku. sejak itu aku menyadari bahwa aku lebih sering mencurahkan kegundahanku melalui facebook.
                                                                     -_-
Hari ini adalah hari ulangtahunku. Dan aku berdiri disini, tepat 3 bulan setelah aku putuskan untuk ikhlas tentang itu. Dan sekarang keikhlasan itu jauh lebih dibutuhkan. Rian benar telah pergi dalam hidupku. Mungkin itu wujud keadilan yang aku pernah minta dihadirkan seperti ini oleh Tuhan. Bukan membiarkan diriku dengan seorang bayangan lain. Membiarkan Rian dengan Anty. Tetapi membiarkan pergi untuk selamanya. Adil dengan keduanya meneteskan air mata, aku dan Anty.
Air mataku menetes. Mengingat Anty, rasanya aku ingin meluapkan emosiku. Ingin menyalahkan semuanya dengannya. Anty tak pernah sedikitpun merespon Rian, aku benci itu. Aku terlalu sakit untuk menghilangkan Rian dalam bayang hidupku dan Rian tanpa sadar sakit karena Anty.  Ya Tuhan,,,
Tapi aku sadar, semuanya memiliki skenario. Takdir yang digariskan Tuhan.  Rian pergi karena mau membelikan sebuah buku untuk Anty – titipan Anty. Rian telah memilih Anty, aku tak boleh menyalahkan itu, bersamaku pun aku tak bisa menjamin kebahagiannya.
Di bawah pohon kamboja yang masih menyembulkan bunganya ini lah aku mengamati mereka dari kejauhan. Ku lihat Anty menangis, tapi jauh meletihkan mata ketika melihat kedua orang tuanya. Tak ada air mata, mereka hanya diam seolah tak percaya. Aku terlalu sakit untuk kesana. Cukup masa laluku yang mengentahui rasaku terhadapnya. Air mata ku pun menetes hanya sedetik karena telah aku pastikan tak ada air mata untuknya. Dia ada disini. Di hatiku... hingga akhir waktu.
***
Amor es esperanza ( Cinta adalah harapan ). Ucapan itu kembali tergiang di telinga Aruna. Rian telah lama pergi tapi semua tentangnya tak akan pernah mati dalam diri Aruna. Walaupun telah berupaya dikubur.
Aruna beranjak dari tempatnya duduk. Matanya berkunang. Akhirnya dia putuskan untuk tidur.
---
“ Rian kenapa kau disini. Bukankah dunia kita telah berbeda sekarang? “ Aruna menatap Rian tidak percaya.
“ aku tahu dunia kita telah berbeda. Aku hanya ingin menemui seorang Aruna. “ Rian hanya berdiri diam menatap Aruna.
“ Kau harus tahu. Butuh waktu lama mengubur semua tentangmu, Rian. Kenapa kau meninggalkanku Rian Aprianto? “
“ Maafkan aku, Aruna. Sungguh aku  telah banyak menyakitimu bahkan hingga akhir waktupun aku tak bisa menyadari bahwa kau jauh menyayangiku. “
“Aku telah mengikhlaskan semua tentangmu Rian. Kau salah menilaiku, aku bangga pernah mengukir harapan denganmu. Kau jauh membuatku dewasa. “
“Terima kasih Aruna atas segalanya. Maaf sekali lagi. Sebelum aku menghilang, jauh dilubuk hatiku aku menyadari rasamu ada pada diriku. Aku menyayangimu. Kau harus tahu, disini---di hatiku. Kau masih kekasihku.” Usapan lembut menyapu helaian rambut Aruna.
“Aku pergi Aruna. Jaga dirimu. Cinta adalah harapan, sayang. Suatu saat kau akan mendapatkan cintaku lagi, percayalah walau bukan dari sosok diriku. Dan aku…akan tetap masih akan menunggumu disini, walaupun didunia aku tak bisa memilikimu.”  Seulas senyum Rian untuk Aruna perlahan memudar
“ Aku takut kehilangan dirimu kedua kalinya Rian. Aku takut…jangan tinggalkan aku. Aku mohon.”
Lagu naff – Kau masih kekasihku yang menjadi dering telpon di HPnya terpaksa membangunkan Aruna dari mimpi kehadiran Rian. Sejenak Aruna linglung tak mengerti apa yang baru saja terjadi.
Rian sebegitu kangen kah aku akan sosok mu, hingga aku bermimpi tentang hadirmu.
Andai saja waktu bisa terulang kembali
Akan kuserahkan hidupku di sisimu
Namun ku tahu itu takkan mungkin terjadi
Rasa ini menyiksaku
Sungguh sungguh menyiksaku
Jauh di lubuk hatiku
Masih terukir namamu
Jauh di dasar jiwaku
Engkau masih kekasihku
(Kau masih kekasihku – naff)



©Illa