****
Anggraini P.O.V
Termenung, mungkin adalah
perbuatan yang akhir-akhir ini sering kulakukan. Entah kenapa, termenung adalah
pilihan yang terbaik menurutku sekarang. Di dalam ketermenunganku saat inilah
aku bisa mengingat semua kelakuan yang dia lakukan. Bahkan jika mukanya
terlintas di otakku, mukaku terasa panas dan desiran-desiran hangat terasa di
hatiku.
Dia yang membuatku
seperti ini adalah seorang The Most Wanted di sekolah kami. Dia, bertubuh
tegap, tinggi, kulitnya putih, mukanya yang cakep serta gayanya yang terkesan
cuek dan cool abis itu membuat hatiku tergerak untuk menyukainya, bahkan
mencintai dan menyayanginya.
Tetapi aku sadar
bahwa, mungkin dirinya tidak akan pernah menjadi milikku-pacar-, bahkan
melirikku saja tidak akan mungkin. Inilah yang membuatku malu untuk mengakui
kepada sahabatku bahwa diriku mempunyai seseorang yang begitu special di hatiku
selain Allah dan orang tuaku. Aku pengecut tidak bisa mengakuinya seperti
orang-orang lain yang setiap saat dia lewat di depan mereka akan teriak-teriak
histeris, seperti “Harry, I love you. Harry, kau selalu dihatiku,” bahkan
sampai terang-terangan nembak dia di muka umum. Yang hanya di tanggapinnya
dengan acuh. Keacuhan dirinya itulah yang membuatku pesimis untuk mendapatkan
cintanya.
Hari ini aku berjalan
tergesa-gesa di koridor kelas yang menuju kelasku. Dengan muka sedikit tegang, aku terus berdo’a
semoga belum ada guru yang masuk ke dalam kelas kami. Di dalam hati aku sedikit
menggerutu mengapa semalam aku tidur larut malam sehingga membuat diriku telat.
“Brukk…” aku menabrak seseorang. Arrgh, membuatku semakin telat saja. Aku hanya
menoleh sekilas kepada orang yang kutabrak dan bergegas kembali menuju kelasku.
“Huh,” aku menghela
napas panjang. Ternyata gurunya belum datang. Aku kembali menatap ke arah
tempat terjadinya penabrakan tadi. ‘Deg…’ dadaku berdegup kencang, melihat
siapa yang tadi kutabrak. Dengan separuh sadar, karena separuhnya lagi sedang
berusaha menetralkan perasaanku, aku menuju ke tempat dudukku.
“Tumben, telat,” ujar
teman sebangkuku sekaligus sahabatku, Icha. Aku hanya membalas ucapannya dengan
cengiran lebar. Aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi tadi? Aku
menabraknya, seseorang yang sangat aku cintai itu. Apakah aku bermimpi, kucubit
lenganku, “Argh, sakit,” rintihku, berarti ini benar-benar nyata. Ada perasaan
senang di hatiku dan sedikit perasaan gelisah. Apa dia marah tadi aku tabrak? Tanpa
meminta maaf pula, ujarku dalam hati. Pikiranku tak bisa melangkah lebih jauh
lagi karena terdengar suara ketukan sepatu Bu Winda dari ujung koridor.
Bel pulang sekolah
berbunyi, rasanya males banget pulang ke rumah, bukan berarti aku nggak suka di
rumah, tetapi selama aku di rumah aku tidak akan bisa melihat mukanya, dan yang
pasti itu membuat diriku sedikit merasa hari-hari yang aku lalui di rumah terasa
panjang.
“Ra, pulang sama-sama
yuk!” ajak Icha yang sedari tadi menungguku mengemasi barang-barangku. Aku
hanya menganggukan kepala.
“Yuk, Cha,”ajakku
yang telah selesai mengemasi semua barang-barangku.
Kami pun berjalan
beriringan di koridor sekolah. Icha terus berceloteh riang walaupun dia tahu
aku sedikit kurang bersemangat hari ini. Entah mengapa, diriku sedikit merasa
gelisah.
“Ra, kenapa sih lu
dari tadi diem aja, gue merasa dikacangin deh,”kesal Icha.
“Heh, emm, gue cuma
lagi nggak semangat aja, Cha,” ujarku lemas.
“Kenapa sih lu, dari
tadi pagi lemes banget,” tanyanya. Aku hanya menggelengkan kepalaku sekilas
yang berarti tidak terjadi apa-apa. Seakan mengerti Icha pun tidak
bertanya-tanya lagi.
“Deg… deg…” kembali
perasaan itu terasa di hatiku. Uugh, kenapa sih dia harus ada di depan gerbang.
Aku terus melangkahkan kakiku dengan cepat. Icha yang kebingungan berusaha menyamakan
langkah kakinya. Aku melewatinya tanpa melihat sedikit pun, hebat. Padahal saat
aku ingin melewatinya ingin rasanya melihatnya sedikit saja, walaupun hanya
sekilas tetapi bisa menikmati sedikit mukanya itu. Kapankah aku benar-benar
bisa menikmati lekuk-lekuk wajahnya yang rupawan itu.
Setelah sedikit
menjauh dari pintu gerbang sekolah, aku memperlambat gerakan kakiku, sehingga membuat
Icha yang tertinggal di belakang bisa mensejajari diriku. Pandangan bingung
terus dia tujukan untuknya. Maafkan, aku Cha, aku nggak bisa cerita sekarang
ujarku dalam hati. Aku hanya memberikan ekspresi polos sepolos-polosnya untuk Icha
menganggap aku tidak tahu apa yang dimaksud pandangan dirinya.
“Kenapa sih lu, Ni,
aneh banget?” tanyanya dengan pandangan menyelidik. Aku sedikit merasa risih
dengan pandangan yang dia berikan untukku. Aku hanya menggelengkan kepala
sekilas bertanda tidak terjadi apa-apa dan kembali memfokuskan pandanganku ke
depan.
Hatiku terasa
meronta-ronta menyuruhku untuk menoleh kembali ke belakang tetapi tak ada
keberanian untuk melakukan itu. apalagi ditambah Icha ada di sampingku pasti
membuatnya bertambah curiga denganku.
Icha hanya diam
sekarang, aku rasa dia benar-benar nggak puas dengan jawaban yang aku berikan
untuknya tadi. Tak apalah, toh suatu saat nanti dia juga akan tau, tapi aku
tidak bisa mendeskripsikan kapan aku akan memberi tahunya, sabar aja yah, Cha,
aku tetap akan memberi tahumu karena kau sobat terbaikku.
Entah sudah beberapa
hari ini aku melihatnya murung, bukan seperti Harry yang aku kenal, walaupun
cuek, tetapi pancaran semangat terlihat jelas di mukanya.
Hatiku benar-benar
tergerak untuk memberikan sedikit semangat untuknya, agar mukanya tidak
terlihat murung seperti itu, yang membuat hatiku sakit. Uhh, tetapi apa alasan
yang bisa aku berikan agar bisa membuatnya kembali seperti biasa.
Hari ini tak tahu
mengapa hatiku tergerak untuk menuju ke taman belakang sekolah, sendirian. Dan
sekarang aku di sini menatap hamparan rumput hijau tak tahu apa yang inginku
lakukan dan akhirnya termenunglah jalan yang aku pilih.
“Bukk…” suara itu
membuat diriku terkejut dan terbangun dari lamunanku. Sedikit kesal… tetapi
saat aku melihat ke sebelahku “Deg… deg…” perasaan itu kembali muncul di dalam
diriku lagi, jantungku berdetak lebih cepat dengan perasaan senang yang
berlebihan. “Eh…” hanya satu ucapan itu yang keluar dari mulutku. Dia menoleh
sekilas dan menatap diriku penuh keterkejutan.
“Siapa lu?” tanyanya
padaku. Tuh kan bener apa yang hatiku takutkan dia tidak mengenaliku.
“Gue… Anggraini…”
ucapku dengan menolehkan kembali kepalaku ke depan berusaha menetralisir
kembali perasaanku.
“Kenapa lu di sini?”
tanyanya lagi dengan nada dingin. Hufft… ternyata benar dia adalah seseorang
yang benar-benar dingin, lebih tepatnya monster es.
“Lagi pengen.”
Berusaha untuk membalas semuanya pertanyaan dengan nada cuek dan menghilangkan
nada yang sedikit bergetar dalam ucapanku.
Dan semuanya kembali
hening tanpa ada yang memulainya. Jangan bilang aku akan memulainya, aku takut
sangat takut. Bagaimana bila aku dahulu yang memulainya dia akan mengacuhkanku?
Bagaimana… bagaimana… dan bagaimana… seribu satu pertanyaan yang muncul di
otakku membuat kepalaku pusing sendiri. Tanpa sadar aku menggelengkan kepala.
“Kenapa?” Harry
kembali memulai, percakapan masih dengan nada dingin.
“Nggak
kenapa-kenapa,” jawabku. Seneng banget perasaanku dia ternyata memerhatikanku.
“Kenapa lu ke sini?” tanyaku pura-pura cuek.
“Haruskah lu tau gue
kenapa ke sini, kita aja baru kenal,” jawabnya acuh.
“Ya udah kalau
misalnya nggak mau cerita gue nggak akan maksa.”
Dengan gerakan cepat
aku berdiri dan melangkahkan kakiku cepat, sangat sakit hatiku mendengar
jawaban yang keluar dari mulutnya. Tak tahukah dia kalau aku selalu
memikirkannya sampai diriku tak dapat tidur. Tak terasa satu tetes air mata
jatuh dari pelupuk mataku.
Perasaan sedih atas
kejadian kemarin masih menggeluti hatiku. Dengan malas aku beranjak dari tempat
tidur mengambil handphone yang terletak di atas meja belajar. Dan mengirimkan
sebuah SMS.
To:
Icha “My sobad”
Cha,
temenin gue ke taman biasanya, dong J
From: Icha “My sobad”
Mau
ngapain?
To: Icha “My Sobad”
Lagi pengen kan udah
lama nggak ke sana
From: Icha “My sobad”
Yah, gue lagi mau
jalan sama Rio, nih. Gue batalin janji gue dulu deh ma Rio
To: Icha “My sobad”
Jangan, biar gue
pergi sendiri aja dh, lu jalan aja sama Rio
From: Icha “My sobad”
Beneran nih? Gue jadi
nggak enak
To: Icha “My sobad”
Bener J
From: Icha “My sobad”
Maaf, Ni, nggak bisa
nemenin L
To: Icha “My sobad”
Nggak apa” J
Ahh, Icha nggak bisa
ikut, pergi sendiri aja deh. Mau nenangin pikiran ucapku dalam hati. Bergegas
aku mandi dan pergi tanpa sarapan.
****
Memang pemandangan
taman ini, selalu bisa menenangkan pikiranku. Aku menghirup udara pagi dalam…
dalam… segar banget. Inilah keuntungan pergi pagi-pagi udaranya benar-benar
masih bersih belum ada sedikit pun tersentuh polusi, bukan hanya pagi di taman
ini bila sore hari kita bisa melihat sunset yang sangat indah. Inilah yang
membuat aku dan Icha menjadikan tempat ini sebagai tempat favorit kami berdua.
“Deg.. deg..” kenapa
hatiku kembali berdetak cepat. Ada apa? Apakah dia ada di sekitar sini? Aku
memandang seluruh tempat di taman ini tetapi dia tidak tampak. “Ahh… mungkin
hanya perasaanku saja. Pasti ini karena terlalu memikirkannya,” ujarku
menenangkan diri. Aku memejamkan mata, menikmati udara pagi ini. “Brukk”
ada-ada aja yang selalu mengganggu ketenanganku sekarang ada apa lagi gerutuku
dalam hati.
Ternyata perasaan
hatiku benar, sekarang dia berada tepat di sampingku. Mengapa sih dia selalu
mengambil tempat yang dekat denganku tak tahukah dia perasaanku sekarang
benar-benar tak karuan. Masih banyakkan tempat lain, kenapa harus di sini?
“Kenapa lu tinggalin
gue kemarin?” tanya Harry dengan nada datar plus dinginnya itu.
“Haruskah gue terus
duduk diam di tempat itu?”
“Kenapa lu malah
nanya balik?”
“Memang salah kalau
gue nanya balik,” jawabku tenang.
Dia hanya memandang
lurus ke depan, karena aku ada rasa sedikit kesal dengannya, aku lebih memilih
diam –aku tidak yakin keterdiamanku ini berarti atau tidak untuknya. Harusnya
aku menenangkan diri di sini, tetapi rencana yang hampir sempurna ini –akan
sempurna kalau dia, orang yang aku pikirkan tidak menghampiriku sekarang- tidak berhasil.
Kerongkonganku terasa
kering. Bagaimana tidak… makanan maupun minuman sama sekali belum masuk ke
dalam kerongkonganku. Mau sih sekedar beli air minumlah tetapi aku tidak
melihat pedagang asongan di sekitar sini –heran pedagangannya nggak ada yang
mau untung kali yah.
Diriku tergerak untuk
pergi ke warung depan taman. Bukan hanya kerongkonganku yang kering tetapi
perutku juga sudah meronta-ronta untuk segera memakan paling tidak rotilah –
kalau bisa sih bubur ayam, enak tuh di makan pagi-pagi gini- huh, cacing-cacing
di perutku sudah benar-benar demo besar.
Terserah, apa kata
orang di sebelah aku, yang penting sekarang aku harus segera makan –sebenarnya
sih aku ada sakit maag tapi makan hampir selalu telat-
Aku pun beranjak dari
tempat dudukku tetapi sebelum aku melangkah lebih jauh lagi, terasa sebuah
tangan mengehentikan langkahku.
“Lu, mau kemana?”
tanya Harry. What? Harry
ngemberentiin langkah kakiku, berarti dia merhatiin aku. Sadar Anggraini lu kan jalan di depan dia wajar dia liat lu
sangkalku dalam hati. Ada sedikit rasa senang membuncah keluar dari dalam
hatiku tetapi semua itu berlalu mengingat begitu rasa kesal ini masih menguasai
hatiku. “Terserah gue,” jawabku pendek.
“Lu nggak boleh
pergi,” suruhnya, bossy banget kan.
“Siapa lu,
ngatur-ngatur hidup gue,” ujarku tenang. Dengan sekali hentakan cekalan di
tanganku terlepas aku pun berlari-lari ke arah warung di depan taman. Kalau
meladeninya, maag aku bisa-bisa kambuh, dan aku nggak mau itu terjadi.
Kuhempaskan tubuhku
ke tempat duduk warung makan ini. Tadi aku sudah memesan satu piring nasi uduk,
tinggal menunggu makan itu datang-baru sadar perutku lapar buanget-dan menyantapnya.
Karena sedang asyik-asyiknya menikmati es teh-sengaja pagi-pagi beli es teh-
aku tak sadar ditempat di sebelahku sudah di tempati oleh seseorang.
“Kenapa nggak bilang
kalau mau makan?” tanya orang itu dingin.
Aku menolehkan
kepalaku ke arah datangnya suara, “Lu lagi, lu lagi, kenapa sih lu ngikutin gue
mulu?” tanyaku balik. Sempat terkejut sih, orang itu ternyata Harry, yang
anehnya dia ngikutin aku. Harusnya aku senang bukan tetapi apa yang aku rasakan
sekarang perasaan kesal yang teramat sangat. Apakah rasa cinta itu telah hilang
dari hatiku?
“Terserah gue dong,”
ucapnya dingin tanpa melihat sedikit pun ke arahku.
“Ngomong noh sama
tembok. Orang yang ngomong di sebelah, nolehnya ke tembok,” dumelku kesal. Dan
bersiap mencari tempat duduk yang jauh dari Harry-kalau bisa ke ujung dunia
sekalian-.
“Jangan pergi,”
ucapnya menoleh padaku. Aku memasang wajah malas dan kembali duduk ke tempatku
semula.
Sadar atau aku
sekarang memang lagi bermimpi. Harry merangkulku dengan mesra setelah aku
mendudukkan diriku. Saat itu juga ibu-ibu warung itu menyodorkan dua piring
nasi uduk di depan kami sambil memberikan senyuman yang hanya aku balas dengan
anggukan kecil. Mungkin sekarang pipiku telah berwarna seperti tomat, hatiku
meloncat-loncat senang. Harry membisikkan kata-kata mesra di telingaku. Apakah
memang sekarang aku sedang bermimpi, berarti kejadian di taman tadi hanya
mimpi? Aku mencoba menyadarkan diriku dengan mencubit sendiri lenganku, sakit,
berarti ini bukan mimpi. Kekesalanku seperti menghilang dan lenyap.
****
Harry P.O.V
Aku tak tahu apa yang
sekarang aku lakukan dengan cewek di sebelahku ini, cewek yang beberapa kali
menanggapiku dengan jutek. Tapi yang aku lakukan sekarang bukanlah yang aku inginkan dari hatiku. Aku hanya
menginginkan gadis di depan warung itu, melihatnya. Aku ingin melihat bagaimanakah reaksi gadis itu
saat dia melihatku bermesraan dengan cewek lain, cewek yang baru saja kemarin
aku kenal.
Sebenarnya entah
mengapa aku memilih cewek ini dari sekian banyak cewek yang
menyukaiku-sepertinya cewek ini memang menyukaiku itu terlihat dari tingkah
lakunya bukan berarti aku ge-er-.
Rika gadis di depan
warung itu, seperti melihat kami dan dia memberikan tatapan sayu –kalau aku
tidak salah lihat-. Pertanyaan mengalir deras di otakku, perasaan yang
mengganjal di hatiku semenjak beberapa hari yang lalu mengalir kembali.
Bukankah dia telah mempunyai seseorang yang berarti baginya, yang disukainya.
Mengapa harus dia memberikan tatapan itu? Aku sadar waktu itu aku menembaknya
di taman ini, menungkapkan isi hatiku selama ini, dia hanya menginginkan untuk
berfikir beberapa hari. Oke, aku terima, tetapi yang membuatku sakit hati, di
depan mataku aku melihat dia bergandengan tangan mesra dengan cowok lain.
Apakah itu yang membuatnya meminta waktu? Dia tidak ingin aku mengetahui bahwa
dia sudah mempunyai cowok. Dianggap apa aku oleh dirinya, mainankah.
Dan sekarang dengan
gadis ini aku mencoba menegarkan hatiku. Aku ingin melihat apa yang terjadi
saat aku dekat dengan gadis ini, Anggraini. Apakah dia akan cemburu?
Bukankah ini semua
menyakitkan perasaan gadis di sebelahku ini yang sedang memakan nasi uduk
dengan lahap? Aku tahu semua ini akan sangat menyakitkan bila dia mengetahui
alasan mengapa aku mendekatinya. Aku berharap dia tidak akan mengetahui. Aku
tak akan sanggup memikirkan perasaan bersalah yang menyerangku saat dia
mengetahui semua itu.
Setidaknya rasa
bersalah ini masih ada, menunjukkan sebenarnya aku masih mempunyai perasaan
tersentuh. Yang bahkan orang satu sekolah mengiraku diriku sedingin es,
pemikiran yang sebenarnya tidak ingin aku dengar di telingaku. Aku juga masih
memiliki rasa cinta, cinta yang bisakah terbalaskan oleh Rika.
Sebaiknya aku
sekarang fokus dengan makanan di depanku, supaya Anggraini tidak curiga
–sebenarnya aku lupa namanya, benar-benar Anggraini atau bukan-.
Aku mengetatkan rangkulanku
di pundaknya, sedikit menyulitkan diriku menyantap makanan (re: Harry di
sebelah kanan, Anggraini sebelah kiri. Dan Harry merangkul Anggraini dengan
tangan kiri). Aneh, aku merasa nyaman merangkul orang di sisiku ini, orang yang
sama sekali belum aku kenal itu pun aku hanya mengenal namanya saja. Orang yang
hanya bisa membuatku nyaman didekatnya cuma Rika tapi sekarang ada dia, entah
kenapa. Terpikir Rika aku kembali melihat depan warung itu, tidak ada lagi Rika
mungkin dia telah pergi, terbesit pertanyaan mengapa dia pagi-pagi ini ada di
taman ini.
Perlahan tangan yang
aku rangkulkan ke Anggraini, terlepas, aku tahu kenapa. Rika pergi, berarti
sandiwara ini berakhir.
****
Enam bulan sudah,
sandiwara ini terus aku mainkan tanpa Anggraini tahu. Aku mengenal cewek ini
sangat… sangat mengenalnya. Ternyata dibalik sandiwara ini aku bisa mengenal
kepribadianya. Dia yang begitu ceria, polos dan nggak jutek-jutek amat sih.
Kenyataan bahwa aku
dan Anggraini dekat telah merebaku seseantro sekolah, inilah yang aku inginkan.
Kebetulan Rika satu sekolah dengan kami, memang kedekatanku dengan dia , Rika,
dulu tak ada orang yang mengetahuinya.
Entah, kenapa
perasaanku sekarang ingin menapakkan kakiku di taman. Peraaan ini benar-benar
mendorong diriku untuk melangkahkan kakiku di sana. Saat diriku sampai di taman
sekolah yang sepi ini.
Sesampainya aku di
sana. Aku seperti mendengar isakan tangis, menyedihkan. Kulangkahkan kakiku ke
arah datangnya suara. Ku tepuk pundak cewek tersebut, dari belakang sepertinya
aku mengenali dirinya. Setelah aku melihat di depannya, yah ternyata
pemikiranku benar, dia Rika sedang menangis, entah apa yang dia tangisi.
“Kenapa, Ka,”
tanyaku lembut, tidak ada jawaban darinya, yang terdengar hanya senggukan
kecil, dia menatapku sayu dengan air mata yang terus mengalir deras. Tak tega
aku melihatnya, aku peluk dia erat. Perlahan-lahan tangisannya mulai berhenti.
Ada apa dengan gadis ini? Tanyaku dalam hati.
“Kenapa kamu perlakukan
aku seperti ini, Ry,” ucapnya lemah.
“Maksudmu apa, Ka,
aku tak mengerti?” tanyaku bingung.
“Sadar nggak, Ry,
yang kamu lakuin ini buat aku sakit, kamu beberapa bulan ini seperti
menjauhiku, apa salahku, Ry. Semenjak kamu dekat dengan cewek lain, nggak ada
sama sekali perhatianmu untukku seperti dulu. Lalu, kenapa kamu mengungkapkan
isi hatimu kalau jadinya seperti ini. Sakit, Ry, hati ini kamu perlakukan gitu.
Padahal aku berpikir bahwa kamu benar-benar sayang sama aku tapi kenapa kamu gini-in
aku,” ucapnya histeris dan perlahan air mata itu kembali jatuh.
“Harusnya aku tanya
kamu, Ka, aku udah ngungkapin perasaan aku, kamu minta waktu, aku beri. Tetapi
kenapa kamu ada cowok lain, Ka, aku lihat kalian pegangan erat di taman tempat
aku nembak kamu, aku pikir kamu nggak cinta sama aku,” balasku dengan muka
merah. Aku marah, dia berpikiran seperti itu seakan aku yang salah.
“Kamu salah paham, Ry,
dia bukan pacar aku ataupun orang yang
aku cintai, dia hanya saudara aku, Ry, hanya saudara,” jelasnya dengan air mata
yang masih terurai.
“Saudara harus
berpegangan tangan semesra itukah?”
“Dia bukan hanya
saudara, Ry buat aku dia juga aku jadiin sahabat aku, Ry. Dan orang yang
special yang sangat aku sayangi cuma kamu, Ry, cuma kamu,” teriaknya histeris.
“Kenapa kamu nggak
jawab langsung waktu itu, kenapa?” tanyaku frustasi, kalau begini tak akan
pernah ada aku yang mendekati Anggraini, tak ada kisah itu, sehingga perasaan
bersalah itu pun tak akan ada.
“Aku masih bingung,
apakah perasaan ini benar, aku takut, Ry, takut. Sekarang aku sadar aku sangat
mencintai kamu, aku cemburu kamu dekat dengan orang lain,” jawabnya dengan air
mata yang semakin mengalir deras.
“Maafin aku, Ka,
harusnya aku nggak buat kamu jadi sakit, harusnya aku tanya dulu sama kamu,
jadi nggak akan terjadi seperti ini. Soal Anggraini aku hanya sandiwara biar
kamu cemburu, maafin aku, Ka,” ucapku dan memeluk tubuh Rika erat.
“Aku sayang kamu
juga,Ry,” ujarnya dan membalas pelukanku.
“Jadi, jawaban atas
pertanyaan dulu apa?” ucapku jahil.
“Iya, Ry, aku mau,”
ujar Rika dengan senyuman yang sangat manis. Aku menghapus air matanya dengan
ibu jariku.
“Jangan nangis lagi,”
ucapku dan kami tersenyum bahagia.
Akhirnya penantianku
telah menampakkan hasil. Rika telah menjadi kekasihku, sekarang. Pikiranku
berkecamuk tentang Anggraini, dan jawabannya adalah aku akan menganggap Anggraini
sebagai sahabat terbaikku.
****
Anggraini P.O.V
Air mataku mengalir
deras, ternyata beberapa bulan terakhir Harry mendekatiku hanya karena itu,
hanya untuk sandiwara. Sekejam itukah Harry dengan mempermainkan perasaanku.
Padahal aku sudah mengharapkan yang lebih dari semua kisah ini.
Aku berlari menyusuri
koridor, mungkin lebih baik aku cepat pulang ke rumah, sebelum aku kembali
bertemu Harry, lagi-an Rizki telah menunggu di depan gerbang sekolah untuk
menjemputku.
Andaikan waktu itu
aku tidak mencoba mengikuti Harry, mungkin aku tak akan mendengar semua kisah
menyakitkan. Biarlah aku seperti orang bodoh yang tak tahu kenyataan
sebenarnya. Daripada aku harus merasakan rasa sakit ini.
“Kenapa, dek,” tanya Rizki
sambil menuntunku ke arah mobil, mungkin dia khawatir dengan keadaanku.
“Nggak kenapa-kenapa
kok, kak,” ujarku serak sambil menghapus sisa-sisa air mataku dengan kasar.
Sesaat setelah aku
masuk ke dalam mobil. Perlahan mobil dijalankan. Aku yakin Rizki sekarang
mengkhawatirkan aku tapi aku tahu cukup sekali dia menanyakan keadaanku.
Masih terbayang
kejadian tadi di otakku. Letih rasanya, mungkin memang aku hanya bisa
mencintainya dalam hatiku. Dan tak akan pernah sekali pun aku mengungkapkan
semuanya dengan Harry. Cukup aku hanya akan menganggap bahwa aku tidak pernah
mendengar semua yang mereka ucapkan tadi. Biarlah, aku yang mengalah, aku tidak
ingin menjadi orang yang menghancurkan kisah mereka.
Cukup aku yang sakit.
Cukup kisah cinta ini hanya ada di dalam hati. Mungkin suatu saat rasa cinta
itu akan terhapus seiring waktu berjalan, mungkin.
****

Tidak ada komentar:
Posting Komentar