Senin, 25 Februari 2013

Cinta dalam diam (cerpen)


****
Anggraini P.O.V
Termenung, mungkin adalah perbuatan yang akhir-akhir ini sering kulakukan. Entah kenapa, termenung adalah pilihan yang terbaik menurutku sekarang. Di dalam ketermenunganku saat inilah aku bisa mengingat semua kelakuan yang dia lakukan. Bahkan jika mukanya terlintas di otakku, mukaku terasa panas dan desiran-desiran hangat terasa di hatiku.
Dia yang membuatku seperti ini adalah seorang The Most Wanted di sekolah kami. Dia, bertubuh tegap, tinggi, kulitnya putih, mukanya yang cakep serta gayanya yang terkesan cuek dan cool abis itu membuat hatiku tergerak untuk menyukainya, bahkan mencintai dan menyayanginya.

Tetapi aku sadar bahwa, mungkin dirinya tidak akan pernah menjadi milikku-pacar-, bahkan melirikku saja tidak akan mungkin. Inilah yang membuatku malu untuk mengakui kepada sahabatku bahwa diriku mempunyai seseorang yang begitu special di hatiku selain Allah dan orang tuaku. Aku pengecut tidak bisa mengakuinya seperti orang-orang lain yang setiap saat dia lewat di depan mereka akan teriak-teriak histeris, seperti “Harry, I love you. Harry, kau selalu dihatiku,” bahkan sampai terang-terangan nembak dia di muka umum. Yang hanya di tanggapinnya dengan acuh. Keacuhan dirinya itulah yang membuatku pesimis untuk mendapatkan cintanya.
Hari ini aku berjalan tergesa-gesa di koridor kelas yang menuju kelasku.  Dengan muka sedikit tegang, aku terus berdo’a semoga belum ada guru yang masuk ke dalam kelas kami. Di dalam hati aku sedikit menggerutu mengapa semalam aku tidur larut malam sehingga membuat diriku telat. “Brukk…” aku menabrak seseorang. Arrgh, membuatku semakin telat saja. Aku hanya menoleh sekilas kepada orang yang kutabrak dan bergegas kembali menuju kelasku.
“Huh,” aku menghela napas panjang. Ternyata gurunya belum datang. Aku kembali menatap ke arah tempat terjadinya penabrakan tadi. ‘Deg…’ dadaku berdegup kencang, melihat siapa yang tadi kutabrak. Dengan separuh sadar, karena separuhnya lagi sedang berusaha menetralkan perasaanku, aku menuju ke tempat dudukku.
“Tumben, telat,” ujar teman sebangkuku sekaligus sahabatku, Icha. Aku hanya membalas ucapannya dengan cengiran lebar. Aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi tadi? Aku menabraknya, seseorang yang sangat aku cintai itu. Apakah aku bermimpi, kucubit lenganku, “Argh, sakit,” rintihku, berarti ini benar-benar nyata. Ada perasaan senang di hatiku dan sedikit perasaan gelisah. Apa dia marah tadi aku tabrak? Tanpa meminta maaf pula, ujarku dalam hati. Pikiranku tak bisa melangkah lebih jauh lagi karena terdengar suara ketukan sepatu Bu Winda dari ujung koridor.
Bel pulang sekolah berbunyi, rasanya males banget pulang ke rumah, bukan berarti aku nggak suka di rumah, tetapi selama aku di rumah aku tidak akan bisa melihat mukanya, dan yang pasti itu membuat diriku sedikit merasa hari-hari yang aku lalui di rumah terasa panjang.
“Ra, pulang sama-sama yuk!” ajak Icha yang sedari tadi menungguku mengemasi barang-barangku. Aku hanya menganggukan kepala.
“Yuk, Cha,”ajakku yang telah selesai mengemasi semua barang-barangku.
Kami pun berjalan beriringan di koridor sekolah. Icha terus berceloteh riang walaupun dia tahu aku sedikit kurang bersemangat hari ini. Entah mengapa, diriku sedikit merasa gelisah.
“Ra, kenapa sih lu dari tadi diem aja, gue merasa dikacangin deh,”kesal Icha.
“Heh, emm, gue cuma lagi nggak semangat aja, Cha,” ujarku lemas.
“Kenapa sih lu, dari tadi pagi lemes banget,” tanyanya. Aku hanya menggelengkan kepalaku sekilas yang berarti tidak terjadi apa-apa. Seakan mengerti Icha pun tidak bertanya-tanya lagi.
“Deg… deg…” kembali perasaan itu terasa di hatiku. Uugh, kenapa sih dia harus ada di depan gerbang. Aku terus melangkahkan kakiku dengan cepat. Icha yang kebingungan berusaha menyamakan langkah kakinya. Aku melewatinya tanpa melihat sedikit pun, hebat. Padahal saat aku ingin melewatinya ingin rasanya melihatnya sedikit saja, walaupun hanya sekilas tetapi bisa menikmati sedikit mukanya itu. Kapankah aku benar-benar bisa menikmati lekuk-lekuk wajahnya yang rupawan itu.
Setelah sedikit menjauh dari pintu gerbang sekolah, aku memperlambat gerakan kakiku, sehingga membuat Icha yang tertinggal di belakang bisa mensejajari diriku. Pandangan bingung terus dia tujukan untuknya. Maafkan, aku Cha, aku nggak bisa cerita sekarang ujarku dalam hati. Aku hanya memberikan ekspresi polos sepolos-polosnya untuk Icha menganggap aku tidak tahu apa yang dimaksud pandangan dirinya.
“Kenapa sih lu, Ni, aneh banget?” tanyanya dengan pandangan menyelidik. Aku sedikit merasa risih dengan pandangan yang dia berikan untukku. Aku hanya menggelengkan kepala sekilas bertanda tidak terjadi apa-apa dan kembali memfokuskan pandanganku ke depan.
Hatiku terasa meronta-ronta menyuruhku untuk menoleh kembali ke belakang tetapi tak ada keberanian untuk melakukan itu. apalagi ditambah Icha ada di sampingku pasti membuatnya bertambah curiga denganku.
Icha hanya diam sekarang, aku rasa dia benar-benar nggak puas dengan jawaban yang aku berikan untuknya tadi. Tak apalah, toh suatu saat nanti dia juga akan tau, tapi aku tidak bisa mendeskripsikan kapan aku akan memberi tahunya, sabar aja yah, Cha, aku tetap akan memberi tahumu karena kau sobat terbaikku.
Entah sudah beberapa hari ini aku melihatnya murung, bukan seperti Harry yang aku kenal, walaupun cuek, tetapi pancaran semangat terlihat jelas di mukanya.
Hatiku benar-benar tergerak untuk memberikan sedikit semangat untuknya, agar mukanya tidak terlihat murung seperti itu, yang membuat hatiku sakit. Uhh, tetapi apa alasan yang bisa aku berikan agar bisa membuatnya kembali seperti biasa.
Hari ini tak tahu mengapa hatiku tergerak untuk menuju ke taman belakang sekolah, sendirian. Dan sekarang aku di sini menatap hamparan rumput hijau tak tahu apa yang inginku lakukan dan akhirnya termenunglah jalan yang aku pilih.
“Bukk…” suara itu membuat diriku terkejut dan terbangun dari lamunanku. Sedikit kesal… tetapi saat aku melihat ke sebelahku “Deg… deg…” perasaan itu kembali muncul di dalam diriku lagi, jantungku berdetak lebih cepat dengan perasaan senang yang berlebihan. “Eh…” hanya satu ucapan itu yang keluar dari mulutku. Dia menoleh sekilas dan menatap diriku penuh keterkejutan.
“Siapa lu?” tanyanya padaku. Tuh kan bener apa yang hatiku takutkan dia tidak mengenaliku.
“Gue… Anggraini…” ucapku dengan menolehkan kembali kepalaku ke depan berusaha menetralisir kembali perasaanku.
“Kenapa lu di sini?” tanyanya lagi dengan nada dingin. Hufft… ternyata benar dia adalah seseorang yang benar-benar dingin, lebih tepatnya monster es.
“Lagi pengen.” Berusaha untuk membalas semuanya pertanyaan dengan nada cuek dan menghilangkan nada yang sedikit bergetar dalam ucapanku.
Dan semuanya kembali hening tanpa ada yang memulainya. Jangan bilang aku akan memulainya, aku takut sangat takut. Bagaimana bila aku dahulu yang memulainya dia akan mengacuhkanku? Bagaimana… bagaimana… dan bagaimana… seribu satu pertanyaan yang muncul di otakku membuat kepalaku pusing sendiri. Tanpa sadar aku menggelengkan kepala.
“Kenapa?” Harry kembali memulai, percakapan masih dengan nada dingin.
“Nggak kenapa-kenapa,” jawabku. Seneng banget perasaanku dia ternyata memerhatikanku. “Kenapa lu ke sini?” tanyaku pura-pura cuek.
“Haruskah lu tau gue kenapa ke sini, kita aja baru kenal,” jawabnya acuh.
“Ya udah kalau misalnya nggak mau cerita gue nggak akan maksa.”
Dengan gerakan cepat aku berdiri dan melangkahkan kakiku cepat, sangat sakit hatiku mendengar jawaban yang keluar dari mulutnya. Tak tahukah dia kalau aku selalu memikirkannya sampai diriku tak dapat tidur. Tak terasa satu tetes air mata jatuh dari pelupuk mataku.
Perasaan sedih atas kejadian kemarin masih menggeluti hatiku. Dengan malas aku beranjak dari tempat tidur mengambil handphone yang terletak di atas meja belajar. Dan mengirimkan sebuah SMS.
To: Icha “My sobad”
Cha, temenin gue ke taman biasanya, dong J

From: Icha “My sobad”
Mau ngapain?

To: Icha “My Sobad”
Lagi pengen kan udah lama nggak ke sana

From: Icha “My sobad”
Yah, gue lagi mau jalan sama Rio, nih. Gue batalin janji gue dulu deh ma Rio

To: Icha “My sobad”
Jangan, biar gue pergi sendiri aja dh, lu jalan aja sama Rio

From: Icha “My sobad”
Beneran nih? Gue jadi nggak enak

To: Icha “My sobad”
Bener J

From: Icha “My sobad”
Maaf, Ni, nggak bisa nemenin L
To: Icha “My sobad”
Nggak apa” J
Ahh, Icha nggak bisa ikut, pergi sendiri aja deh. Mau nenangin pikiran ucapku dalam hati. Bergegas aku mandi dan pergi tanpa sarapan.
****
Memang pemandangan taman ini, selalu bisa menenangkan pikiranku. Aku menghirup udara pagi dalam… dalam… segar banget. Inilah keuntungan pergi pagi-pagi udaranya benar-benar masih bersih belum ada sedikit pun tersentuh polusi, bukan hanya pagi di taman ini bila sore hari kita bisa melihat sunset yang sangat indah. Inilah yang membuat aku dan Icha menjadikan tempat ini sebagai tempat favorit kami berdua.
“Deg.. deg..” kenapa hatiku kembali berdetak cepat. Ada apa? Apakah dia ada di sekitar sini? Aku memandang seluruh tempat di taman ini tetapi dia tidak tampak. “Ahh… mungkin hanya perasaanku saja. Pasti ini karena terlalu memikirkannya,” ujarku menenangkan diri. Aku memejamkan mata, menikmati udara pagi ini. “Brukk” ada-ada aja yang selalu mengganggu ketenanganku sekarang ada apa lagi gerutuku dalam hati.
Ternyata perasaan hatiku benar, sekarang dia berada tepat di sampingku. Mengapa sih dia selalu mengambil tempat yang dekat denganku tak tahukah dia perasaanku sekarang benar-benar tak karuan. Masih banyakkan tempat lain, kenapa harus di sini?
“Kenapa lu tinggalin gue kemarin?” tanya Harry dengan nada datar plus dinginnya itu.
“Haruskah gue terus duduk diam di tempat itu?”
“Kenapa lu malah nanya balik?”
“Memang salah kalau gue nanya balik,” jawabku tenang.
Dia hanya memandang lurus ke depan, karena aku ada rasa sedikit kesal dengannya, aku lebih memilih diam –aku tidak yakin keterdiamanku ini berarti atau tidak untuknya. Harusnya aku menenangkan diri di sini, tetapi rencana yang hampir sempurna ini –akan sempurna kalau dia, orang yang aku pikirkan tidak menghampiriku sekarang-  tidak berhasil.
Kerongkonganku terasa kering. Bagaimana tidak… makanan maupun minuman sama sekali belum masuk ke dalam kerongkonganku. Mau sih sekedar beli air minumlah tetapi aku tidak melihat pedagang asongan di sekitar sini –heran pedagangannya nggak ada yang mau untung kali yah.
Diriku tergerak untuk pergi ke warung depan taman. Bukan hanya kerongkonganku yang kering tetapi perutku juga sudah meronta-ronta untuk segera memakan paling tidak rotilah – kalau bisa sih bubur ayam, enak tuh di makan pagi-pagi gini- huh, cacing-cacing di perutku sudah benar-benar demo besar.
Terserah, apa kata orang di sebelah aku, yang penting sekarang aku harus segera makan –sebenarnya sih aku ada sakit maag tapi makan hampir selalu telat-
Aku pun beranjak dari tempat dudukku tetapi sebelum aku melangkah lebih jauh lagi, terasa sebuah tangan mengehentikan langkahku.
“Lu, mau kemana?” tanya Harry. What? Harry ngemberentiin langkah kakiku, berarti dia merhatiin aku. Sadar Anggraini lu kan jalan di depan dia wajar dia liat lu sangkalku dalam hati. Ada sedikit rasa senang membuncah keluar dari dalam hatiku tetapi semua itu berlalu mengingat begitu rasa kesal ini masih menguasai hatiku. “Terserah gue,” jawabku pendek.
“Lu nggak boleh pergi,” suruhnya, bossy banget kan.
“Siapa lu, ngatur-ngatur hidup gue,” ujarku tenang. Dengan sekali hentakan cekalan di tanganku terlepas aku pun berlari-lari ke arah warung di depan taman. Kalau meladeninya, maag aku bisa-bisa kambuh, dan aku nggak mau itu terjadi.
Kuhempaskan tubuhku ke tempat duduk warung makan ini. Tadi aku sudah memesan satu piring nasi uduk, tinggal menunggu makan itu datang-baru sadar perutku lapar buanget-dan menyantapnya. Karena sedang asyik-asyiknya menikmati es teh-sengaja pagi-pagi beli es teh- aku tak sadar ditempat di sebelahku sudah di tempati oleh seseorang.
“Kenapa nggak bilang kalau mau makan?” tanya orang itu dingin.
Aku menolehkan kepalaku ke arah datangnya suara, “Lu lagi, lu lagi, kenapa sih lu ngikutin gue mulu?” tanyaku balik. Sempat terkejut sih, orang itu ternyata Harry, yang anehnya dia ngikutin aku. Harusnya aku senang bukan tetapi apa yang aku rasakan sekarang perasaan kesal yang teramat sangat. Apakah rasa cinta itu telah hilang dari hatiku?
“Terserah gue dong,” ucapnya dingin tanpa melihat sedikit pun ke arahku.
“Ngomong noh sama tembok. Orang yang ngomong di sebelah, nolehnya ke tembok,” dumelku kesal. Dan bersiap mencari tempat duduk yang jauh dari Harry-kalau bisa ke ujung dunia sekalian-.
“Jangan pergi,” ucapnya menoleh padaku. Aku memasang wajah malas dan kembali duduk ke tempatku semula.
Sadar atau aku sekarang memang lagi bermimpi. Harry merangkulku dengan mesra setelah aku mendudukkan diriku. Saat itu juga ibu-ibu warung itu menyodorkan dua piring nasi uduk di depan kami sambil memberikan senyuman yang hanya aku balas dengan anggukan kecil. Mungkin sekarang pipiku telah berwarna seperti tomat, hatiku meloncat-loncat senang. Harry membisikkan kata-kata mesra di telingaku. Apakah memang sekarang aku sedang bermimpi, berarti kejadian di taman tadi hanya mimpi? Aku mencoba menyadarkan diriku dengan mencubit sendiri lenganku, sakit, berarti ini bukan mimpi. Kekesalanku seperti menghilang dan lenyap.
****
Harry P.O.V
Aku tak tahu apa yang sekarang aku lakukan dengan cewek di sebelahku ini, cewek yang beberapa kali menanggapiku dengan jutek. Tapi yang aku lakukan sekarang bukanlah  yang aku inginkan dari hatiku. Aku hanya menginginkan gadis di depan warung itu, melihatnya. Aku  ingin melihat bagaimanakah reaksi gadis itu saat dia melihatku bermesraan dengan cewek lain, cewek yang baru saja kemarin aku kenal.
Sebenarnya entah mengapa aku memilih cewek ini dari sekian banyak cewek yang menyukaiku-sepertinya cewek ini memang menyukaiku itu terlihat dari tingkah lakunya bukan berarti aku ge-er-.
Rika gadis di depan warung itu, seperti melihat kami dan dia memberikan tatapan sayu –kalau aku tidak salah lihat-. Pertanyaan mengalir deras di otakku, perasaan yang mengganjal di hatiku semenjak beberapa hari yang lalu mengalir kembali. Bukankah dia telah mempunyai seseorang yang berarti baginya, yang disukainya. Mengapa harus dia memberikan tatapan itu? Aku sadar waktu itu aku menembaknya di taman ini, menungkapkan isi hatiku selama ini, dia hanya menginginkan untuk berfikir beberapa hari. Oke, aku terima, tetapi yang membuatku sakit hati, di depan mataku aku melihat dia bergandengan tangan mesra dengan cowok lain. Apakah itu yang membuatnya meminta waktu? Dia tidak ingin aku mengetahui bahwa dia sudah mempunyai cowok. Dianggap apa aku oleh dirinya, mainankah.
Dan sekarang dengan gadis ini aku mencoba menegarkan hatiku. Aku ingin melihat apa yang terjadi saat aku dekat dengan gadis ini, Anggraini. Apakah dia akan cemburu?
Bukankah ini semua menyakitkan perasaan gadis di sebelahku ini yang sedang memakan nasi uduk dengan lahap? Aku tahu semua ini akan sangat menyakitkan bila dia mengetahui alasan mengapa aku mendekatinya. Aku berharap dia tidak akan mengetahui. Aku tak akan sanggup memikirkan perasaan bersalah yang menyerangku saat dia mengetahui semua itu.
Setidaknya rasa bersalah ini masih ada, menunjukkan sebenarnya aku masih mempunyai perasaan tersentuh. Yang bahkan orang satu sekolah mengiraku diriku sedingin es, pemikiran yang sebenarnya tidak ingin aku dengar di telingaku. Aku juga masih memiliki rasa cinta, cinta yang bisakah terbalaskan oleh Rika.
Sebaiknya aku sekarang fokus dengan makanan di depanku, supaya Anggraini tidak curiga –sebenarnya aku lupa namanya, benar-benar Anggraini atau bukan-.
Aku mengetatkan rangkulanku di pundaknya, sedikit menyulitkan diriku menyantap makanan (re: Harry di sebelah kanan, Anggraini sebelah kiri. Dan Harry merangkul Anggraini dengan tangan kiri). Aneh, aku merasa nyaman merangkul orang di sisiku ini, orang yang sama sekali belum aku kenal itu pun aku hanya mengenal namanya saja. Orang yang hanya bisa membuatku nyaman didekatnya cuma Rika tapi sekarang ada dia, entah kenapa. Terpikir Rika aku kembali melihat depan warung itu, tidak ada lagi Rika mungkin dia telah pergi, terbesit pertanyaan mengapa dia pagi-pagi ini ada di taman ini.
Perlahan tangan yang aku rangkulkan ke Anggraini, terlepas, aku tahu kenapa. Rika pergi, berarti sandiwara ini berakhir.
****
Enam bulan sudah, sandiwara ini terus aku mainkan tanpa Anggraini tahu. Aku mengenal cewek ini sangat… sangat mengenalnya. Ternyata dibalik sandiwara ini aku bisa mengenal kepribadianya. Dia yang begitu ceria, polos dan nggak jutek-jutek amat sih.
Kenyataan bahwa aku dan Anggraini dekat telah merebaku seseantro sekolah, inilah yang aku inginkan. Kebetulan Rika satu sekolah dengan kami, memang kedekatanku dengan dia , Rika, dulu tak ada orang yang mengetahuinya.
Entah, kenapa perasaanku sekarang ingin menapakkan kakiku di taman. Peraaan ini benar-benar mendorong diriku untuk melangkahkan kakiku di sana. Saat diriku sampai di taman sekolah yang sepi ini.
Sesampainya aku di sana. Aku seperti mendengar isakan tangis, menyedihkan. Kulangkahkan kakiku ke arah datangnya suara. Ku tepuk pundak cewek tersebut, dari belakang sepertinya aku mengenali dirinya. Setelah aku melihat di depannya, yah ternyata pemikiranku benar, dia Rika sedang menangis, entah apa yang dia tangisi.
“Kenapa, Ka,” tanyaku lembut, tidak ada jawaban darinya, yang terdengar hanya senggukan kecil, dia menatapku sayu dengan air mata yang terus mengalir deras. Tak tega aku melihatnya, aku peluk dia erat. Perlahan-lahan tangisannya mulai berhenti. Ada apa dengan gadis ini? Tanyaku dalam hati.
“Kenapa kamu perlakukan aku seperti ini, Ry,” ucapnya lemah.
“Maksudmu apa, Ka, aku tak mengerti?” tanyaku bingung.
“Sadar nggak, Ry, yang kamu lakuin ini buat aku sakit, kamu beberapa bulan ini seperti menjauhiku, apa salahku, Ry. Semenjak kamu dekat dengan cewek lain, nggak ada sama sekali perhatianmu untukku seperti dulu. Lalu, kenapa kamu mengungkapkan isi hatimu kalau jadinya seperti ini. Sakit, Ry, hati ini kamu perlakukan gitu. Padahal aku berpikir bahwa kamu benar-benar sayang sama aku tapi kenapa kamu gini-in aku,” ucapnya histeris dan perlahan air mata itu kembali jatuh.
“Harusnya aku tanya kamu, Ka, aku udah ngungkapin perasaan aku, kamu minta waktu, aku beri. Tetapi kenapa kamu ada cowok lain, Ka, aku lihat kalian pegangan erat di taman tempat aku nembak kamu, aku pikir kamu nggak cinta sama aku,” balasku dengan muka merah. Aku marah, dia berpikiran seperti itu seakan aku yang salah.
“Kamu salah paham, Ry, dia bukan pacar aku  ataupun orang yang aku cintai, dia hanya saudara aku, Ry, hanya saudara,” jelasnya dengan air mata yang masih terurai.
“Saudara harus berpegangan tangan semesra itukah?”
“Dia bukan hanya saudara, Ry buat aku dia juga aku jadiin sahabat aku, Ry. Dan orang yang special yang sangat aku sayangi cuma kamu, Ry, cuma kamu,” teriaknya histeris.
“Kenapa kamu nggak jawab langsung waktu itu, kenapa?” tanyaku frustasi, kalau begini tak akan pernah ada aku yang mendekati Anggraini, tak ada kisah itu, sehingga perasaan bersalah itu pun tak akan ada.
“Aku masih bingung, apakah perasaan ini benar, aku takut, Ry, takut. Sekarang aku sadar aku sangat mencintai kamu, aku cemburu kamu dekat dengan orang lain,” jawabnya dengan air mata yang semakin mengalir deras.
“Maafin aku, Ka, harusnya aku nggak buat kamu jadi sakit, harusnya aku tanya dulu sama kamu, jadi nggak akan terjadi seperti ini. Soal Anggraini aku hanya sandiwara biar kamu cemburu, maafin aku, Ka,” ucapku dan memeluk tubuh Rika erat.
“Aku sayang kamu juga,Ry,” ujarnya dan membalas pelukanku.
“Jadi, jawaban atas pertanyaan dulu apa?” ucapku jahil.
“Iya, Ry, aku mau,” ujar Rika dengan senyuman yang sangat manis. Aku menghapus air matanya dengan ibu jariku.
“Jangan nangis lagi,” ucapku dan kami tersenyum bahagia.
Akhirnya penantianku telah menampakkan hasil. Rika telah menjadi kekasihku, sekarang. Pikiranku berkecamuk tentang Anggraini, dan jawabannya adalah aku akan menganggap Anggraini sebagai sahabat terbaikku.
****
Anggraini P.O.V
Air mataku mengalir deras, ternyata beberapa bulan terakhir Harry mendekatiku hanya karena itu, hanya untuk sandiwara. Sekejam itukah Harry dengan mempermainkan perasaanku. Padahal aku sudah mengharapkan yang lebih dari semua kisah ini.
Aku berlari menyusuri koridor, mungkin lebih baik aku cepat pulang ke rumah, sebelum aku kembali bertemu Harry, lagi-an Rizki telah menunggu di depan gerbang sekolah untuk menjemputku.
Andaikan waktu itu aku tidak mencoba mengikuti Harry, mungkin aku tak akan mendengar semua kisah menyakitkan. Biarlah aku seperti orang bodoh yang tak tahu kenyataan sebenarnya. Daripada aku harus merasakan rasa sakit ini.
“Kenapa, dek,” tanya Rizki sambil menuntunku ke arah mobil, mungkin dia khawatir dengan keadaanku.
“Nggak kenapa-kenapa kok, kak,” ujarku serak sambil menghapus sisa-sisa air mataku dengan kasar.
Sesaat setelah aku masuk ke dalam mobil. Perlahan mobil dijalankan. Aku yakin Rizki sekarang mengkhawatirkan aku tapi aku tahu cukup sekali dia menanyakan keadaanku.
Masih terbayang kejadian tadi di otakku. Letih rasanya, mungkin memang aku hanya bisa mencintainya dalam hatiku. Dan tak akan pernah sekali pun aku mengungkapkan semuanya dengan Harry. Cukup aku hanya akan menganggap bahwa aku tidak pernah mendengar semua yang mereka ucapkan tadi. Biarlah, aku yang mengalah, aku tidak ingin menjadi orang yang menghancurkan kisah mereka.
Cukup aku yang sakit. Cukup kisah cinta ini hanya ada di dalam hati. Mungkin suatu saat rasa cinta itu akan terhapus seiring waktu berjalan, mungkin.
****


©Zizi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar