Dia hanya
terpaku menatap sebuah paragraf yang tersusun dari kalimat-kalimat dan
kata-kata hasil imajinasinya. Sudah satu jam berlalu, hanya kegiatan itulah yang
dia lakukan. Terkadang untuk menghilangkan rasa bosan dia melihat ke arah jendela,
berharap setelah dia melihat keluar dia bisa mendapatkan sebuah ide untuk
melanjutkan cerita yang dia buat.
Dia, Zea Amanda, seorang siswa SMA yang sedang
giat-giatnya menulis sebuah cerita. Tetapi sekarang dia dihadapkan oleh keadaan
yang membuatnya tidak bisa menghasilkan satu cerita pun sampai tamat. Semuanya
pasti berhenti di tengah-tengah atau bahkan dia hanya bisa menuliskan satu
paragraf. Terkadang dia kesal kepada dirinya sendiri, kenapa membuat satu
cerita pun saat ini dia tidak bisa?
Semua
cara yang disarankan temannya yang juga
sering menulis, untuk mendapatkan sebuah
ide, dia sudah pernah coba. Hasilnya? Jangan di tanya! Tak ada satu pun cerita
yang dapat dia buat. Malahan dia merasa semua yang dilakukannya sia-sia.
“Udahlah,
Ze, besok saja dilanjutin. Sekarang kita pulang, udah sore.” Dia melihat ke
arah datangnya suara dan tersenyum tipis.
“Bentar
lagi, Re, aku masih berharap bisa mendapatkan ide.”
“Besok
sajalah, Ze. Lagian perpustakaan ini bentar lagi tutup.”
Akhirnya,
dia menuruti permintaan temannya, Resta Mentari, mengemasi semua barang-barang
yang dia bawa tadi dan kemudian mengikuti langkah temannya yang telah duluan
keluar dari perpustakaan.
“Kenapa
yah aku nggak ada ide sama sekali buat ngelanjutin cerita yang aku buat ini.”
Zea menggerutu pelan dan Resta hanya mendengarkannya dengan tersenyum simpul.
“Habisnya
kamu cuma terpaku dengan imajinasimu dan kejadian yang nggak pernah kamu alamin
sih?! Makanya idenya jadi ngada.” Resta terkekeh pelan.
Zea
mencerna apa yang dikatakan Resta. Kalimat yang dikatakan sahabatnya itu
seperti menyadarkannya tentang sesuatu. Ya, dia selama ini hanya terpaku dengan
kejadian-kejadian yang hanya ada dibayangannya, mengharapkan semua yang terjadi
di dalam ceritanya bisa dialami di kehidupan nyata.
“Dan aku
lihat-lihat cerita kamu hampir semua mengandung cinta-cintaan yang bahagia dan
menunjukkan keromantisan tokoh-tokohnya atau cinta tragis yang berakhir dengan
si kekasih yang meninggal dunia. Padahal kamu sendiri nggak pernah mengalami
itu.” Resta melanjutkan ucapannya.
Benar
juga sih, Zea membenarkan dalam hati. Selama ini memang cerita-cerita tentang
itulah yang dia buat.
“Bagaimana
sekali-sekali kamu buat cerita tentang kehidupanmu? Kamu bisa menuliskan
tentang kehidupan sehari-hari atau bahkan hal-hal yang membuat kamu menangis
dan tertawa, yang pernah kamu alami. Tokohnya bisa saja bukan kamu tapi
ceritanya dari pengalaman kamu dan itu semua tidak harus sesuai dengan
kenyataan. Kamu bisa memolesi ceritamu dengan sedikit imajinasimu,” oceh Resta
tanpa berhenti tak menyadari Zea
yang jauh tertinggal di belakangnya.
Zea
termenung dan merutuki dirinya sendiri. Bodohnya dia bisa melupakan semua itu.
Padahal dia kan bisa membuat cerita yang penuh warna, seperti membuat cerita tentang kejadian saat dia menemukan seorang
kucing yang lucu di jalan. Bagaimana perasaan dia di marahi orang tuanya saat
membuat kesalahan. Bagaimana rasanya sakit, dan kejadian lainnya. Itu semua
terbayang-bayang di pikirannya membuatnya ingin langsung menumpahkan di buku
ceritanya.
“Ze….
Ze…. Kenapa kamu masih berdiri di situ?” Resta berseru memanggil Zea yang masih
termenung di halaman perpustakaan. Resta baru menyadari dari tadi dia mengoceh
sendirian di trotoar dekat perpustakaan.
“Iya…
iya… bentar.” Zea berlari ke arah Resta dan kemudian berjalan mendahului Resta.
“Lho…
lho…. Kok jadi aku yang ditinggal sendirian sih, Ze, tunggu!” Resta mensejajari
langkahnya dengan Zea.
Dan
akhirnya Zea pun mengakhiri sorenya itu dengan ide-ide yang terus
menghampirinya. Ide-ide yang membuatnya saat sampai di rumah langsung membuka
buku khusus-khusus ceritanya dan langsung menuliskan semua ide-ide yang ada di
otaknya. Menumpahkan semuanya, menjadikan ide-ide itu sebuah kata. Kata-kata
itu dirangkainya dalam sebuah kalimat dan kalimat-kalimat itu akhirnya menjadi
sebuah paragraf. Paragraf yang berisi alur dan konflik-konflik, dan akan
berakhir dengan sebuah kata TAMAT yang menandai berakhirnya cerita.
THE END
©Zizi