Kamis, 18 April 2013

IDE... OH... IDE


Dia hanya terpaku menatap sebuah paragraf yang tersusun dari kalimat-kalimat dan kata-kata hasil imajinasinya. Sudah satu jam berlalu, hanya kegiatan itulah yang dia lakukan. Terkadang untuk menghilangkan rasa bosan dia melihat ke arah jendela, berharap setelah dia melihat keluar dia bisa mendapatkan sebuah ide untuk melanjutkan cerita yang dia buat.
Dia,  Zea Amanda, seorang siswa SMA yang sedang giat-giatnya menulis sebuah cerita. Tetapi sekarang dia dihadapkan oleh keadaan yang membuatnya tidak bisa menghasilkan satu cerita pun sampai tamat. Semuanya pasti berhenti di tengah-tengah atau bahkan dia hanya bisa menuliskan satu paragraf. Terkadang dia kesal kepada dirinya sendiri, kenapa membuat satu cerita pun saat ini dia tidak bisa?
Semua cara yang disarankan temannya yang  juga sering menulis,  untuk mendapatkan sebuah ide, dia sudah pernah coba. Hasilnya? Jangan di tanya! Tak ada satu pun cerita yang dapat dia buat. Malahan dia merasa semua yang dilakukannya sia-sia.
“Udahlah, Ze, besok saja dilanjutin. Sekarang kita pulang, udah sore.” Dia melihat ke arah datangnya suara dan tersenyum tipis.
“Bentar lagi, Re, aku masih berharap bisa mendapatkan ide.”
“Besok sajalah, Ze. Lagian perpustakaan ini bentar lagi tutup.”
Akhirnya, dia menuruti permintaan temannya, Resta Mentari, mengemasi semua barang-barang yang dia bawa tadi dan kemudian mengikuti langkah temannya yang telah duluan keluar dari perpustakaan.
“Kenapa yah aku nggak ada ide sama sekali buat ngelanjutin cerita yang aku buat ini.” Zea menggerutu pelan dan Resta hanya mendengarkannya dengan tersenyum simpul.
“Habisnya kamu cuma terpaku dengan imajinasimu dan kejadian yang nggak pernah kamu alamin sih?! Makanya idenya jadi ngada.” Resta terkekeh pelan.
Zea mencerna apa yang dikatakan Resta. Kalimat yang dikatakan sahabatnya itu seperti menyadarkannya tentang sesuatu. Ya, dia selama ini hanya terpaku dengan kejadian-kejadian yang hanya ada dibayangannya, mengharapkan semua yang terjadi di dalam ceritanya bisa dialami di kehidupan nyata.
“Dan aku lihat-lihat cerita kamu hampir semua mengandung cinta-cintaan yang bahagia dan menunjukkan keromantisan tokoh-tokohnya atau cinta tragis yang berakhir dengan si kekasih yang meninggal dunia. Padahal kamu sendiri nggak pernah mengalami itu.” Resta melanjutkan ucapannya.
Benar juga sih, Zea membenarkan dalam hati. Selama ini memang cerita-cerita tentang itulah yang dia buat.
“Bagaimana sekali-sekali kamu buat cerita tentang kehidupanmu? Kamu bisa menuliskan tentang kehidupan sehari-hari atau bahkan hal-hal yang membuat kamu menangis dan tertawa, yang pernah kamu alami. Tokohnya bisa saja bukan kamu tapi ceritanya dari pengalaman kamu dan itu semua tidak harus sesuai dengan kenyataan. Kamu bisa memolesi ceritamu dengan sedikit imajinasimu,” oceh Resta tanpa berhenti tak menyadari  Zea yang  jauh tertinggal di belakangnya.
Zea termenung dan merutuki dirinya sendiri. Bodohnya dia bisa melupakan semua itu. Padahal dia kan bisa membuat cerita yang penuh warna, seperti membuat cerita  tentang kejadian saat dia menemukan seorang kucing yang lucu di jalan. Bagaimana perasaan dia di marahi orang tuanya saat membuat kesalahan. Bagaimana rasanya sakit, dan kejadian lainnya. Itu semua terbayang-bayang di pikirannya membuatnya ingin langsung menumpahkan di buku ceritanya.
“Ze…. Ze…. Kenapa kamu masih berdiri di situ?” Resta berseru memanggil Zea yang masih termenung di halaman perpustakaan. Resta baru menyadari dari tadi dia mengoceh sendirian di trotoar dekat perpustakaan.
“Iya… iya… bentar.” Zea berlari ke arah Resta dan kemudian berjalan mendahului Resta.
“Lho… lho…. Kok jadi aku yang ditinggal sendirian sih, Ze, tunggu!” Resta mensejajari langkahnya dengan Zea.
Dan akhirnya Zea pun mengakhiri sorenya itu dengan ide-ide yang terus menghampirinya. Ide-ide yang membuatnya saat sampai di rumah langsung membuka buku khusus-khusus ceritanya dan langsung menuliskan semua ide-ide yang ada di otaknya. Menumpahkan semuanya, menjadikan ide-ide itu sebuah kata. Kata-kata itu dirangkainya dalam sebuah kalimat dan kalimat-kalimat itu akhirnya menjadi sebuah paragraf. Paragraf yang berisi alur dan konflik-konflik, dan akan berakhir dengan sebuah kata TAMAT yang menandai berakhirnya cerita.
THE END
©Zizi

Selasa, 16 April 2013

FLU


Apakah kau tahu betapa berharganya sebuah kesehatan?
©©©
Hujan dan panas  yang terus berganti tidak teratur, membuat semua orang harus menyiapkan daya tahan tubuh yang kuat karena berbagai macam penyakit akan menyerang, seperti flu, demam dan teman-temannya yang lain. Aku pun juga begitu, walaupun aku tidak melakukan hal-hal ekstrim untuk mempertahankan daya tahan tubuhku. Sebenarnya bisa saja aku tak mempersiapkan semuanya. Kalau saja daya tahan tubuhku tak mudah diterobos virus-virus yang menyebalkan itu tetapi ini malah sebaliknya daya tahan tubuhku tak seperti apa yang aku harapkan.
Dulu aku pernah tak menghiraukan semua itu. Aku menganggapnya hal yang konyol dan merepotkan. Sampai sakit itu menyerangku, membuat aku merasa betapa tidak enaknya sakit tenggorokan seperti ada bara api di dalam tenggorokan, demam  yang membuat aku merasa bisa memasak air karena suhu tubuh yang tinggi , dan batuk. Itu semua mengharuskan aku meminum obat. Apakah aku harus menggambarkan betapa tidak enaknya rasa obat itu? Ditambah lagi suaraku menjadi serak membuatku merasa malu untuk mengeluarkan suara.
Saat itu aku hanya bisa duduk diam dan melihat teman-temanku asyik bermain, mengoceh sana-sini, dan minum es teh yang membuat air liurku terasa ingin menetes. “Mau?” tawar seorang teman yang duduk di sebelahku. Mungkin dia merasa iba padaku. Aku menoleh ke arahnya, dia menyodorkan sebungkus keripik singkong pedas yang penuh minyak. Kesukaanku. Kalau saja aku tidak sakit tenggorokan mungkin aku akan menganggukkan kepala, tapi ini dalam keadaan yang berbeda. Terpaksa aku menggelengkan kepala. “Makasih. Tapi maaf tenggorokanku masih sakit. Jadi aku tidak bisa makan itu dulu. Dia menatapku prihatin dan mengangguk. Memaklumi. “Oh ya sudah, kalau begitu aku ke sana dulu.” Dia berpamitan denganku, menghampiri temanku yang sedang bertukar cerita. Aku hanya memperhatikan mereka, aku tak bisa bergabung karena aku takut pada saat sedang seru-serunya bercerita suaraku malah habis, tidak lucu kan aku pulang ke rumah dengan suara habis dan tak bisa mengeluarkan suara sama sekali seharian?
“Assalamu’alaikum.” Aku mengucapkan salam dengan suara lirih saat memasuki rumah. Hari ini cukup panas membuatku ingin cepat-cepat sampai di rumah saat perjalanan pulang sekolah tadi.
“Wa’alaikumsalam, Zi.” Mamaku berseru dari dapur. Aku melangkahkan kakiku menuju kamar, mengganti baju seragam dengan baju rumah dan setelah itu aku langsung menuju meja makan. Melihat makanan yang dimasak mamaku adalah makanan berminyak membuat aku merasakan nafsu makanku menghilang.
“Ayo makan, Zi, jangan sampai maag kamu kambuh kalau nggak makan siang,” ucap mamaku. Aku hanya menganggukkan kepala, mengambil nasi sedikit dan menyortir makanan apa yang mengandung sedikit minyak. Rasanya sakit flu ini membuatku susah saja, makan susah, minum pun juga susah. Aku nggak mau merasakan flu lagi! Tekadku dalam hati.
“Ma, obat apa yang bisa menghilangkan sakit tenggorokan dan mengembalikan suaraku?”Aku bertanya sambil merengek ke mamaku. Mama tersenyum lembut, “Minum jeruk nipis ditambah madu atau jeruk nipis ditambah gula dengan air hangat.”
“Bener, Ma, sakit tenggorokannya bisa hilangkan dan suaraku bisa kembali semula?” Aku bertanya dengan mata yang berbinar-binar.
“Tidak langsung mengobati, Zi, itu hanya mengurangi sakitnya sedikit. Setidaknya kamu akan merasa sedikit baikkan.” Mama berucap bijak.
“Iya deh, Ma.”
Aku pun mencoba saran mama. Sakit tenggorokanku hilang tetapi aku memasuki masa dimana hidung mampet, suara yang sumbang dan cairan kental yang terus ingin memaksa keluar dari hidung membuatku susah dalam menjalankan kegiatan karena harus tahan membawa sapu tangan dan tissu kemana-mana.
Satu minggu lebih aku telah mengalami flu itu, waktu yang sangat singkat terasa sangat panjang. Sebenarnya aku sudah beberapa kali mengalami flu tetapi tetap saja rasanya flu itu tetap tidak enak. Dan aku benar-benar membulatkan tekad untuk menjaga kesehatanku agar tidak terkena flu lagi, bukan tekad yang dulu-dulu, tekad yang hanya aku buktikan sebentar saja.
Sebenarnya bukan tidak mungkin aku akan sakit flu lagi tapi kan setidaknya aku telah mencoba agar flu itu menjauhiku. Bukankah kita harus terus berusaha semampu kita? Ternyata sehat itu lebih enak daripada sakit!
FIN
©Zizi