Awal yang menyenangkan dan ku akan selalu mengingatnya….
Pagi menyongsong matahari yang bersinar cerah, semerbak harum bunga-bunga yang bermekaran tercium. Aku seorang penyandang cacat, berusaha menggerakkan kursi rodaku ini dengan kedua tangan, menikmati harum bunga di taman ini. Pagi hari, waktu yang selalu aku inginkan untuk melihatnya, seseorang yang aku kagumi dari kejauhan, melihatnya tersenyum, berlari-lari kecil menyusuri hamparan bunga-bunga yang masih dibasahi embun pagi.
“Hi,” sapanya padaku dan menghampiri diriku yang sekarang pikiranku melayang entah kemana. Aku sedikit terkejut tak biasanya dia seorang gadis yang manis, cantik, dan murah senyum ini menghampiriku.
“Hi, juga,” balasku padanya. Rasanya aku lebih sedikit ceria saat dia menghampiriku. Yaahhh… karena kecacatan inilah membuatku tumbuh menjadi seseorang yang pemurung, tetapi itu sudah tak berlaku lagi sekarang saat aku melihat tawa dan senyumnya itu membuatku lebih menikmati hidupku.
“Siapa nama kamu?” tanyanya padaku.
“Nama aku Relvan, nama kamu sendiri?” jawab dan tanyaku balik.
“Aku Reisya, kamu bisa panggil aku Rere atau Syasya,” jawabnya dengan nada ceria.
Perkenalan yang singkat antara aku dan dirinya, walaupun itu hanya sebuah perkenalan , sesungguhnya itu membawa makna besar bagiku karena semenjak itulah kami menjadi seorang sahabat yang tak bisa dipisahkan. Setiap hariku habiskan waktu dengannya, tertawa, curhat, tapi yang sangat aku sesali dia seperti menyimpan sesuatu yang tak ingin aku ketahui dari dirinya. Kenapa aku bisa tahu itu? semua itu kuketahi karena aku telah mengetahui segala sesuatu tentangnya, bagaimana raut wajahnya saat dia sedang sedih, bahagia, ataupun kegalauan hatinya. Hmmm…. Sekarang sepertinya dia menyimpan kegalauan itu sendirian tanpa ingin seseorang pun mengetahuinya atau dia hanya ingin menyimpannya dari hadapanku. Entahlah semenjak beberapa hari yang lalu aku tak pernah lagi menanyakannya, karena aku tidak mau hanya karena itu persahabatan kami hancur.
Berharap kita tidak akan terpisah walaupun cobaan menghadang….
Satu tahun sudah aku menjalani setiap hari dengannya, dia yang memunculkan sebuah keinginanku untuk membuat kaki palsu yang sudah kupakai ini hanya untuk mengwujudkan segala apa yang dia kehendaki, hanya untuknya kulakukan semua ini. Tetapi sifatnya berapa hari ini sangat berubah, dia seperti bukan seorang Reisya yang ku kenal, aku tak mengenalinya lagi. Dia seorang gadis yang pemaaf, melakukan segalanya dengan hati-hati, dan warna bibir yang merah merona, sekarang berubah besar dia menjadi seorang gadis yang egois, ceroboh, dan apa yang aku lihat sekarang wajahnya pucat pasi. Aku berusaha menanyakan apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa dia menjadi seseorang yang seperti ini? Tapi apa jawabannya dia hanya memarahiku. Oh tuhan… apa yang terjadi padanya? Aku tak ingin dia seperti ini, aku tidak mengenalinya, dia orang asing yang tiba-tiba muncul dihadapanku, ungkapan itulah yang terkadang muncul di dalam pikiranku, akan tetapi pikiran itu akan segera ku tepis. Aku tak ingin kehilangannya walaupun sifatnya sekarang sudah berubah. Tetapi dialah orang yang berhasil merubah hidupku menjadi orang yang lebih baik dan orang yang berpikir optimis bukan seperti ku dulu berpikir pesimis tak ada yang bisa dilakukan seorang penyandang cacat. Aku dulu adalah seseorang yang perfect di depan teman-temanku, karena itulah aku mempunyai banyak teman. Semenjak kecelakaan yang merenggut kaki kiriku ini, aku mulai dijauhi teman-temanku mungkin mereka tidak ingin mempunyai seorang teman sepertiku. Hanya dialah yang menjadi teman sekaligus sahabat terbaikku sekarang. Karena alasan inilah aku tidak ingin dia menjauh dariku.
Hanya aku yang merasakan dia menjauhiku atau memang dia menjauhiku. Sekarang dia benar-benar berubah, beberapa kali dia menghilang dari hari-hari biasanya kita habiskan berdua, saat aku menghubunginya dia selalu bilang, aku sibuk banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan. Setiap aku pergi ke rumahnya, dia selalu tidak ada di rumah. Pernah beberapa minggu dia menghilang…. Akan tetapi dia selalu muncul dihadapanku, dengan keadaan yang amat pucat, aku sendiri sampai ngeri melihatnya. Dia hanya bilang kalau dia cuman kelelahan akibat pekerjaannya yang belum selesai, pekerjaan apa yang dilakukannya sampai dia tidak memperhatikan kesehatannya seperti ini. Bahkan dia lebih sering terlihat termenung.
Oh tuhan, mengapa dia menjadi seperti ini? Suatu saat aku menanyakan padanya, aku tidak tahan memendam semua perasaan khawatirku padanya.
“Sya, kenapa sih kamu selalu menghindariku beberapa hari ini?” tanyaku padanya, sungguh dia terlihat terkejut menghadapi pertanyaan yang aku berikan.
“Aku nggak ngehindarin kamu kok, aku kan udah bilang aku banyak kerjaan,” jawabnya. Tiba-tiba dia terlihat menahan sakit dikepalanya tetapi dia berusaha menutupinya dariku.
“Sya…. Kamu nggak apa-apa kan?” kataku memastikkan keadaan sebenarnya.
“Nggak apa-apa….”
BRUKK. Dia jatuh pingsan, mengejutkanku. Aku berusaha mengangkatnya dan menuju mobil untuk membawanya ke rumah sakit, tak ada apa-apa lagi yang kupikirkan aku hanya ingin melihatnya baik-baik saja. Dengan langkah-langkah tertatih-tatih aku membopohnya ke arah mobil, ini memang sangat sulit karena aku hanya memakai kaki palsu yang membatasi ruang gerakku. Dan mulanya aku berpikir dia aku rawat di rumah saja, menunggunya untuk siuman kembali, tetapi saat melihat mukanya yang amat pucat aku sangat khawatir dan memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit saja, agar aku bisa mengetahui keadaan dia sebenarnya. Di dalam mobil aku tidak berhentinya melihat keadaannya, aku menyuruh sopirku untuk melajukan mobil dengan cepat.
Beberapa hari ini, aku terus menungguinya di rumah sakit. Aku sempat syok mendengar bahwa dia menderita penyakit kanker otak stadium akhir.
Ku ingin kembali melihat senyuman bahagianya….
Akhirnya dia siuman hari ini bertepatan dengan hari tragis yang membuat kakiku lumpuh, perasaanku dari tadi tidak enak. Perasaan ini sama seperti sebelum kecelakaan itu. Oh tuhan, janganlah sesuatu yang buruk terjadi, disaat seseorang sahabatku terbaring lemah di rumah sakit atau ini pertanda bahwa dia… tidak aku harus berpikir optimis dia pasti akan sembuh.
“Van,” sapanya padaku dengan membawa senyuman lemah yang tersungging di bibir yang pucat.
“Sya, gimana keadaan kamu sekarang udah baikkan?” tanyaku padanya. Khawatir adalah perasaan yang tergambar jelas di dalam hatiku saat ini. Dia hanya terdiam menatap langit-langit putih kamar rumah sakit ini. Ku menghampirinya, memegang kedua tangannya yang semakin mengurus.
“Sya, kamu janji yah kamu akan kuat,” ucapku padanya memberikan sedikit kekuatan.
“Ntah lah, Van, rasanya aku nggak tahan lagi menghadapi semua ini. Van, kamu harus tahu sebenarnya selama ini aku hampir tidak pernah bisa bersamamu karena inilah, penyakit inilah yang membuat aku berusaha menjauh darimu. Aku ingin kamu bisa melupakanku, kalau aku sudah dipanggil yang maha kuasa. Dan mungkin hari inilah aku akan dipannggilnya,”ujarnya yang membuat perasaan hatiku tak karuan.
Bulan telah menjalankan kembali tugasnya, aku terpaksa meninggalkannya malam ini, sendirian, berharap dia tak kesepian walau tanpa aku menemani tidurnya. Ntah, kenapa rasanya aku tidak ingin meninggalkannya tetapi apalah daya, ibuku di rumah telah mengkhawatirkan aku. Hufft…. Besok pagi-pagi aku akan datang ke sini menemuinya. Tekad itu telah aku kuatkan dalam jiwaku.
Kenangan yang tak kan pernah pudar….
Aku kembali menjejakkan kakiku di rumah sakit ini, tak sabar rasanya bercanda seperti biasa bersama dia. Apakah dia sudah bangun? Tanyaku dalam hati. Beberapa langkah lagi aku akan sampai di ruangannya. Loh… mengapa Kak Linda menangis pikirku melihat kakaknya menangis sesenggukkan di koridor ruang tunggu di depan kamarnya, aku mempercepat langkah kakiku, kekhawatiran itu kembali merebak di hati dan pikiranku.
“Kak, ada apa? Kok kakak nangis?” tanyaku dengan nada sedikit tak sabaran menunggu jawaban.
“Kak…” panggilku lagi sambil menggoyangkan tangan kanannya, dia hanya memandangku sayu.
“Kak? Ada apa?” aku mulai menangis memandang muka Kak Linda pasti ada sesuatu yang membuatnya menangis orang seperti Kak Linda sangat tidak mudah menangis. Aku khawatir jangan-jangan telah terjadi sesuatu dengannya. “Kak…” panggilku keluh. “Ada apa?” lirihku lagi. Memang terlihat cengeng, aku sebagai seorang cowok tetapi inilah aku, aku tidak akan pernah sanggup memikirkan orang yang aku sayang meninggalkanku sendirian. Itu tidaklah mudah bagiku untuk menerimanya.
“Van, kamu sabar yah, biarkan dia tenang di atas sana,” kata Kak Linda memandangku. Apa! Itu benar seperti disambar kilat aku mendengarnya ternyata dia benar meninggalkanku. Aku tertunduk lemas mencoba menerima semuanya. Rasanya itu sangat sakit seperti di tusuk ribuan jarum. Apakah aku bisa melupakan semua kenangan kita? Tidak aku tidak mau melupakannya biarkanlah dia terus berada di hatiku.
“Kak, aku ingin melihatnya untuk terakhir kali,” kataku sambil menguatkan diri, aku mengikuti langkah demi langkah kaki Kak Linda. Sesampainya, di tempat itu aku melihatnya terbujur kaku, perlahan aku mendekatinya, memegang tangannya yang hanya terasa dingin di tanganku. Dan air mata itu kembali jatuh.
“Terima kasih, kau telah merubah pandanganku tentang hidup ini. Terima kasih, kau telah masuk ke dalam kehidupanku dan menjadi sahabat terbaikku, kenangan antara kita tak akan pernah aku lupakan karena itulah hari-hari membahagiakan untukku, dari awal kita berkenalan samapi kemarin waktu dimana terakhir kalinya aku melihatmu tersenyum untukku. Terima kasih atas segalanya,” bisikku pedih padanya.
Di bawah rintik hujan ini…
Setelah pemakamannya, aku membuka kembali lembaran hidupku tanpa kesedihan dan membawa kenangan itu bersama langkahku menyambut hari-hari baru.
©Zizi